Peneliti Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), yakni Heni Purnamawati, Willy Bayuardi, Endang Gunawan, dan Heri Harti melakukan penelitian 'Karakterisasi dan Hibridisasi Beberapa Genotipe Buncis Dataran Rendah-Menengah untuk Pemuliaan ke Arah Pembentukan Varietas Unggul IPB'.
Ini dilakukan untuk mengantisipasi penurunan produksi, yang mengakibatkan perlunya menyediakan varietas buncis yang adaptif pada kondisi agroklimat dataran rendah menengah. Penelitian tersebut tertuang dalam sebuah Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2013.
Dalam keterangan IPB, Kamis (21/5/2015), permintaan buncis selalu meningkat, karena buncis termasuk salah satu komoditas sayuran yang dikonsumsi sebagai sumber protein nabati. Selain itu terbatasnya lahan pertanian di dataran tinggi mendorong perluasan penanaman buncis di dataran menengah dan rendah.
Tim peneliti dari PKHT melakukan serangkaian penelitian yang disusun ke arah pembentukan varietas unggul buncis baru, identifikasi dan karakterisasi genotipe dari koleksi plasma nutfah, pembentukan populasi dasar baru yang memiliki keragaman luas, persilangan untuk membentuk varietas buncis hibrida, dan menyerbuk terbuka (OP) yang adaptif dengan kondisi agroklimat Indonesia terutama dataran menengah dan rendah.
Selain untuk kebutuhan dalam negeri, buncis banyak diminati oleh pasar luar negeri. Jepang dan Singapura merupakan negara di Asia yang membutuhkan pasokan buncis secara berkelanjutan dalam jumlah yang tinggi.
Dalam sepuluh tahun terakhir, permintaan buncis beku dari negara Jepang adalah 400 ton per bulan, dan Singapura sebanyak 100 ton per bulan. Volume ekspor buncis dari Indonesia baru dapat 5-7 persennya saja, yaitu 5-10 ton per bulan.
Berdasarkan karakter morfologi dan pertumbuhan tanaman, dalam penelitian ini diperoleh 9 asesi yang adaptif di dataran rendah menengah. Dari 9 asesi yang adaptif diseleksi 4 asesi sebagai bahan pembentukan populasi dasar untuk pengembangan varietas unggul buncis adaptif dataran rendah menengah.
Dalam kaitannya dengan ketersediaan benih dan peningkatan kualitas polong basah, hasil-hasil pemuliaan buncis diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pasokan (supply) benih pada negara lain, serta menjamin ketersediaan dan kontinuitas pasokan benih. Selain itu memungkinkan adanya benih yang harganya lebih murah dan memperoleh produktivitas dan kualitas buah yang lebih baik, karena varietasnya lebih adaptif dengan kondisi agroklimat di Indonesia.
(Wahyu Daniel/Wahyu Daniel)











































