Gantikan AS, Cina Jadi Negara Konsumen Terbesar di Dunia

Gantikan AS, Cina Jadi Negara Konsumen Terbesar di Dunia

- detikFinance
Kamis, 17 Feb 2005 10:16 WIB
Jakarta - Perekonomian Cina yang tumbuh secara luar biasa kini menjadikan negara dengan penduduk terbesar di dunia itu sebagai negara konsumen terbesar di dunia, menggantikan AS. Menurut laporan dari Earth Policy Institute (EPI) yang berbasis di Washington, Kamis (17/2/2005), Cina saat ini menjadi negara konsumen sumber daya kunci seperti baja dan minyak terbesar di dunia. Sebelumnya AS merupakan negara konsumen terbesar di dunia untuk produk-produk ini. Dalam laporan tesebut dikatakan, sejalan dengan urbanisasi besar-besaran di Cina dimana pembangunan berjalan pesat dan tingginya permintaan apartemen, maka permintaan baja meningkat tajam. Bahkan saat ini kebutuhan baja Cina telah mencapai 258 juta ton atau lebih dari 2 kali lipat dari permintaan AS yakni 104 juta ton selama 2003.Sementara untuk permintaan minyak di Cina juga meningkat dua kali lipat selama periode 1994-2004. Padahal pada periode yang sama, permintaan minyak dari AS hanya meningkat 15 persen. Saat ini tercatat Cina menjadi negara konsumen minyak terbesar kedua setelah AS. Untuk kebutuhan batu bara Cina tercatat sebesar 800 juta ton yang jauh diatas kebutuhan AS yang hanya 574 juta ton. Sedangkan kebutuhan pupuk Cina mencapai 41,2 juta ton atau dua kali lipat kebutuhan AS sebesar 19,2 juta ton selama tahun 2004. Penjualan barang-barang elektronik di Cina juga meningkat tajam. Pada tahun 1996, Cina memiliki 7 juta telepon bergerak dan pada tahun 2003 angkanya telah melonjak hingga 269 juta. Angka ini jauh dibandingkan dengan AS yang hanya memiliki 44 juta telpon bergerak pada tahun 1996 dan hanya tumbuh menjadi 159 juta pada 2003. Demikian pula untuk penggunaan komputer pribadi melonjak di Cina dengan jumlah meningkat dua kali lipat selama 28 bulan. Dengan angka-angka yang sangat fantastis tersebut, EPI menyebut Cina sebagai negara konsumen terbesar di dunia mengalakan AS. Bahkan abad ini disebut sebagai abad Cina. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads