Pengguna Jalan Tol Lebih Susah Diatur Ketimbang KRL dan TransJakarta

Pengguna Jalan Tol Lebih Susah Diatur Ketimbang KRL dan TransJakarta

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Senin, 25 Mei 2015 10:17 WIB
Pengguna Jalan Tol Lebih Susah Diatur Ketimbang KRL dan TransJakarta
Jakarta - Perkembangan pembayaran non tunai di jalan tol, seperti fasilitas mesin On Board Unit (OBU) hingga kartu E-Toll, masih berjalan lambat. Pengguna jalan tol lebih memilih membayar tunai dan antre berlama-lama di gerbang tol manual.

Akibatnya, kendaraan berbaris panjang di gerbang pembayaran tunai saat jam sibuk, sedangkan kendaraan di Gerbang Tol Otomatis (GTO) untuk pembayaran non tunai terlihat lenggang.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) Fathurohman, mengatur pengguna jalan tol memakai fasilitas pembayaran non tunai seperti OBU tidak mudah meskipun pengguna tahu betul manfaatnya.

Ia menambahkan, mengatur pemilik kendaraan di jalan tol lebih susah daripada mengatur penumpang angkutan umum seperti KRL Commuter Line Jabodetabek atau Bus TransJakarta.

"Saya lihat ternyata mengatur penumpang kereta dan Trans Jakarta lebih mudah daripada mengatur pengguna jalan tol. Padahal pengguna jalan tol banyak dari kalangan kelas atas," kata Fathurohman kepada detikFinance, Senin (25/5/2015).

Saat ini penerapan transaksi non tunai sudah berjalan dengan baik di sarana KRL dan TransJakarta. Pengguna dipaksa memakai sistem pembayaran elektronik sehingga mampu mengurai antrean di pintu masuk saat jam sibuk.

Sulitnya mengatur pengguna jalan tol bukan tanpa sebab, penerbit mesin OBU dinilai menjual alatnya terlalu mahal yakni Rp 600.000 per unit. Akibatnya masyarakat enggan memakainya.

"OBU yang e-toll pass itu kita akui mahal, kalau yang kartu kan dijual Rp 20.000. Pertanyan saya, kenapa nggak digratiskan saja oleh Bank Mandiri. Tapi ini seperti ayam dan telur. Bank Mandiri lihat uang Rp 20.000 banyak. Menurut saya digratiskan saja. Beli Rp 40.000, isinya ya Rp 40 ribu," ujarnya.

Minimnya masyarakat yang memakai pembayaran non tunai dibenarkan oleh PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Meski demikian, Jasa Marga sebagai operator jalan tol berupaya mendorong agar masyarakat memakai layanan non tunai seperti fasilitas e-toll hingga mesin e-toll pass.

"Kita memperbanyak GTO supaya berpindah ke non tunai, kalau mereka ingin cepat ya pakai e-toll card dan OBU. Makanya di gerbang Tol Semanggi 1 dipaksa semua bayarnya non tunai. Di sana tidak terima tunai," kata Corporate Secretary Jasa Marga David Wijaya.

(Feby Dwi Sutianto/Angga Aliya)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads