Laba bersih BUMN tersebut turun 1,9%, bila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 151,85 triliun.
"Penurunan laba BUMN sangat dipengaruhi oleh penurunan laba Pertamina yang signifikan. Tahun 2013 laba senilai Rp 32 triliun kemudian turun ke Rp 19 triliun di 2014. Penurunan laba Pertamina dipengaruhi oleh turunnya harga minyak," kata Asdep Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian BUMN, Seger Budiarjo saat berbincang dengan detikFinance di Kementerian BUMN, Selasa (26/5/2015).
Pertamina sendiri merupakan salah satu BUMN penyumbang laba terbesar. Berkurangnya total laba BUMN juga dipengaruhi oleh proses penurunan nilai aset atau impairment asset.
Ternyata, tidak semua BUMN mencetak laba. Dari 119 BUMN, sebanyak 27 BUMN masih mencatat laporan keuangan negatif alias rugi. Total kerugian dari 27 BUMN ialah Rp 11,87 triliun.
Meski masih ada BUMN rugi, total kerugian di 2014 turun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2013, sebanyak 30 BUMN mengalami kerugian senilai Rp 34,68 triliun.
"Secara umum kinerja membaik karena jumlah BUMN yang rugi berkurang. Kemudian per dicatat, laba BUMN tersebut telah dijumlah dan yang rugi tidak menjadi pengurang," ujarnya.
Total BUMN di 2014 mencapai 119, turun dari 2013 sebanyak 139 BUMN. Penurunan jumlah BUMN terjadi karena adanya pembentukan holding BUMN perkebunan dan kehutanan.
Catatan pada kinerja di 2014 adalah, dari 119 BUMN sebanyak 11 BUMN laporan keuangannya dalam status belum teraudit (unaudited).
(Feby Dwi Sutianto/Angga Aliya)










































