Selain Beras Plastik, Mentan Dapat Keluhan Soal Mafia Pupuk

Selain Beras Plastik, Mentan Dapat Keluhan Soal Mafia Pupuk

- detikFinance
Rabu, 27 Mei 2015 11:14 WIB
Selain Beras Plastik, Mentan Dapat Keluhan Soal Mafia Pupuk
Jakarta - Usai masa reses hampir sebulan, semalam Komisi IV DPR mengadakan rapat kerja dengan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman. Banyak hal yang ditanyakan kepada Amran soal temuan anggota DPR saat reses, mulai dari kelangkaan pupuk hingga isu beras plastik yang sempat meresahkan masyarakat.

Cecaran pertama terkait masalah pupuk subsidi. Anggota Komisi IV dari Fraksi PKB Daniel Johan, mengungkapkan sejak distribusi pupuk subsidi dipegang PT Iskandar Muda, pasokan pupuk subsidi ke petani sering telat, hal ini tentunya berdampak besar bagi petani. Giliran sudah panen pupuk datang, lalu apa gunanya pupuk tersebut.

"Soal pupuk subsidi urea sampai Rp 3 triliun. Sewaktu dipegang PT Pupuk Kaltim pasokan pupuk nggak pernah telat. Sekarang dipegang Iskandar Muda telat terus," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Anggota Komisi IV dari Fraksi Gerindra Sjachrani Mataja, ketika reses ke daerah, banyak sekali petani yang mengeluhkan susahnya mendapatkan pupuk. Bahkan pupuk non subsidipun sulit didapat.

"Soal pupuk, di daerah kami juga dikeluhkan. Tidak hanya pupuk subsidi, tetapi juga non subsidi pun sulit didapat," kata Sjachrani.

Anggota Komisi IV lainnya Firman Soebagyo bahkan menyebut distribusi pupuk selama ini sarat dengan permainan mafia. Bahkan mafianya ini justru dilindungi para pengusaha alias pemerintah.

"Soal penunjukan distributor pupuk, sarat dengan permainan mafia. Temuan menunjukkan yang melindungi mafia pupuk adalah kepala daerah. Sebab penunjukan distributor pupuk perlu rekomendasi kepala daerah," ungkapnya.

Selain masalah pupuk, Anggota Komisi IV DPR Darori Wonodipuro mengungkapkan jeritan para petani kentang dan wortel di Dieng, Jawa Tengah.

"Di Dieng sekarang, petaninya kasihan. Di sana sedang panen raya kentang, harga kentangnya jatuh sampai hanya Rp 4.000 per kg, wortel saja hanya Rp 1.200 per kg, harusnya Rp 2500/kg, kami berharap Pak Mentan segera ambil langkah menyikapi masalah ini," ungkap Darori.

"Tidak hanya itu, di Kebumen, beras dari Bulog ditemukan berkutu, bau, dan kondisinya tidak baik. Sementara stok beras di sana muter-muter saja, dari Bulog ke mitra lalu ke pengumpul, balik algi ke mitra lalu dijual ke Bulog," ucapnya.

Firman Soebagyo menambahkan lagi, terkait isu peredaran beras plastik, ia meminta pemerintah ambil sikap tegas, jangan sampai isu ini makin meluas dan meresahkan masyarakat. Karena ada pihak yang bilang beras plastik ada, tapi polisi bilang tidak ada.

"Hasil uji laboratorium Sucofindo yang kredibel bilang positif, tapi akhirnya nggak bisa dipegang karena Polri bilang itu negatif. Pemerintah harus pastikan, jangan sampai buat resah masyarakat," tutup Firman.

Rapat dengan Komisi IV dengan Mentan Amran sendiri di mulai pada pukul 19.00 WIB, dan baru berakhir pada pukul Rabu malam, (27/5/2015) Pukul 00.30 WIB dini hari.

(Rista Rama Dhany/Suhendra)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads