Hal tersebut seperti diungkapkan Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Golkar Firman Soebagyo, dalam rapat kerja dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Selasa malam (27/5/2015).
Firman mengatakan, sulitnya Bulog menyerap beras dari petani karena adanya permainan mafia. Bahkan mafia ini ternyata mantan pejabat hingga pejabat aktif.
"Soal beras, terjadi aksi borong, spekulan bermain. Pemain-pemainnya itu ternyata mantan pejabat, bahkan ada juga yang masih pejabat aktif," ungkap Firman.
Firman mengatakan, Bulog tidak bisa sembarang menyerap beras petani karena harus berdasarkan Harga Pokok Pembelian (HPP) Rp 4.300 per kg, di atas itu Bulog tidak boleh beli.
"Di sini spekulan memborong. Jelang puasa kebutuhan naik dan harga-harga akan melonjak, di situlan para spekulan bermain," katanya.
Tidak hanya beras, Firman juga mengungkapkan permainan mafia di pupuk subsidi.
"Soal penunjukkan distributor pupuk, ini sarat dengan permainan mafia. Temuan menunjukkan yang melindungi mafia pupuk adalah kepala daerah. Sebab penunjukkan distributor pupuk perlu rekomendasi kepala daerah," tutupnya.
(Rista Rama Dhany/Suhendra)











































