Demikianlah diungkapkan oleh Anggota Komisi XI DPR, Andreas Eddy Susetyo, dalam rapat kerja dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (27/5/2015).
"Ekonomi lesu yang Bapak (Menkeu) sampaikan itu masih sangat makro. Lalu bagaimana dengan sektor riil? Itu sudah terkena dampaknya. Terutama untuk perusahaan-perusahaan ritel itu penjualannya menurun," ujar Andreas.
Barang yang penjualannya masih bisa bertahan adalah popok bayi dan susu. Susu yang dimaksud juga adalah jenis kental manis. Ini merupakan hasil pertemuannya dengan kalangan dunia usaha beberapa waktu lalu.
"Semua barang ritel itu penjualan turun, kecuali popok bayi dan susu kental manis. Orang beli susu kental manis itu tanda daya belinya sudah turun. Karena kalau sudah berpindah ke susu kental manis itu, vitaminnya sudah lebih rendah dari susu bubuk," paparnya.
Menurut Andreas, pemerintah perlu membuat kebijakan untuk mendorong dari sektor rill. Terutama dari porsi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) adalah pemberian insentif fiskal, seperti pajak.
"Kita perlu melihat adanya stimulus fiskal untuk mendorong daya beli ini.," imbuhnya.
Anggota Komisi XI lainnya, Ahmad Najib Qudratullah, mengingatkan agar pemerintah lebih kreatif mengeluarkan kebijakan. Karena seringkali perlambatan ekonomi global jadi alasan ketika ekonomi domestik lesu.
"Jajaran Menkeu harusnya lebih kreatif, jangan hanya bergantung pada ekonomi global," kata Najib.
Di samping itu juga harus ada dorongan pencairan anggaran lebih cepat. Karena merupakan komponen pendorong dari pertumbuhan ekonomi.
"Realisasi tren sama dari tahun ke tahun, di mana selalu ada keterlambatan. Saya juga melihat sisi di mana realisasi anggaran ini memang direncanakan untuk tidak direalisasikan. Sehingga bisa dihitung untuk akhir tahun," paparnya.
(Maikel Jefriando/Wahyu Daniel)











































