Vale Indonesia Tetap Optimistis Investasi di RI

Vale Indonesia Tetap Optimistis Investasi di RI

Ayunda W Savitri - detikFinance
Rabu, 27 Mei 2015 22:48 WIB
Vale Indonesia Tetap Optimistis Investasi di RI
Luwu Timur - Larangan ekspor mineral mentah yang dituangkan dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara membuat para pengusaha 'galau' untuk membangun unit pemurnian tambang atau smelter karena investasinya sangat mahal. Sebagai perusahaan tambang, Vale Indonesia tak takut untuk berinvestasi jangka panjang.

"Kita bicara investasi jangka panjang. Harga hari ini jelas tidak masuk akal (murah), tapi investasi kita kan untuk jangka panjang. Ke depan pasti demand membaik," ujar Direktur Vale Indonesia Tbk Febriany Eddy di kantor Vale di Kabupaten Luwu Timur, Sorowako, Sulawesi Selatan, Rabu (27/5/2015).

"Produsen nikel tidak banyak, ada defisit lah. Kami percaya harus investasi sekarang untuk dapat future yang terbaik," lanjutnya.

Sementara itu, Dirut PT Vale Indonesia Tbk Nico Kanter menekankan pentingnya investasi untuk jangka panjang. Menyoal besarnya biaya yang harus digelontorkan perusahaan, dia menyebut itu semua tergantung dari teknologi yang digunakannya.

"Beda-beda, tergantung kalau bicara dengan Vale, investasi kita smelter biaya kisarannya satu utuh US$ 1-1,5 miliar. Tergantung teknologi yang dipakai. Beda-beda, capital murah tapi biaya perawatan tinggi (percuma)," terang Nico.

"Begitu harga rendah, efisiensi biaya sehingga bisa bertahan. Itu yang membuat kenapa beda-beda capital-nya tergantung teknologi apa yang dipakai," kata Nico.

Sebelumnya, saksi ahli pemerintah di bidang teknis Siti Rohani saat uji materi UU Minerba yang diajukan oleh Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (Apemindo) menyebut pengusaha tambang, khususnya yang berskala kecil 'ogah' membangun smelter. Hal ini karena mereka harus mengeluarkan investasi besar.

Siti menjelaskan, harga teknologi smelter sangat bervariasi, mulai dari yang sederhana sampai yang paling canggih. Kemudian makin besar kapasitas pabrik smelter, investasi yang dibutuhkan juga semakin mahal.

Bahkan Siti mencontohkan salah satu kisah sukses perusahaan tambang dengan deposit investasi terbatas, dapat mengekstrak dan memaksimalkan produk tambang. Perusahaan itu adalah Chevron di Laos dengan teknologi smelter jenis hidrometrologi.

Lewat teknologi itu, Chevron mampu mengolah 792.000 ton konsentrat, untuk menghasilkan 64.000 ton katode dan 93.000 ons emas. Kemudian dapat membuka lapangan kerja 5.000 orang dan ikut menyumbang peningkatan pendapatan per kapita penduduk Laos.



(Ayunda W Savitri/Suhendra)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads