Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menuturkan, kondisi tersebut sudah diperhitungkan sebelumnya. Karena di sisi lain, belanja negara juga tidak akan terealisasi 100%.
Sehingga tidak diperlukan pemangkasan anggaran belanja pemerintah. Seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
"Nggak ada pemangkasan, itu natural, memang perkiraan kita belanja akan terserap sekitar 92-93%. Nggak ada yang dipotong, itu memang natural saja," ungkap Bambang di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Jumat (29/5/2015)
Defisit anggaran masih akan dijaga pada level maksimal 2,2%, atau lebih tinggi dari yang dipatok pada awal yaitu 1,9%. Tambahan pembiayaan nanti akan mengandalkan skema multilateral dan bilateral.
"Kan sudah saya bilang. Kalau ada tambahan pinjaman, semua dari andalannya multilateral dan bilateral," jelasnya.
Dirjen Anggaran Askolani menambahkan, realisasi anggaran yang kurang dari 100% bukan direncanakan, tapi disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah penghematan belanja oleh Kementerian/Lembaga (K/L).
"Itu memang kadang K/L itu bisa menghemat. Seperti tender apalagi dengan proses e-catalog, ada semacam penghematan, jadi output-nya tetap tercapai," kata Askolani.
Kedua, ada proyek yang memang sulit untuk berjalan, karena persoalan lahan yang belum selesai dan sebagainya.
"Ada masalah di lapangan, taunya tanahnya nggak bisa dibebaskan. Nah itu kan tanah kadang nggak segampang diperkirakan, itu nggak bisa dijalani, itu alamiah bisa terjadi setiap tahun," paparnya.
(Maikel Jefriando/Wahyu Daniel)











































