Dalam seminar tersebut, Gobel menyatakan meski Indonesia masuk ke dalam golongan negara-negara berkembang (emerging market), namun jumlah penduduk miskin di dalam negeri cukup besar.
"Kita tetap tegas kepentingan Indonesia apa. Pengalaman saya berunding dengan negara lain, saya selalu tegaskan Indonesia punya 30 juta penduduk miskin yang pengeluaran di bawah US$ 1 (Rp 13.000) per hari," tekan Gobel.
Gobel menambahkan, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh cukup tinggi setiap tahun namun belum mampu memberikan dampak yang cukup signifikan. Oleh karena itu, salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah mendorong sektor pertanian. Perlu diingat, menurut Gobel masyarakat miskin justru banyak tersebar di desa.
"Pertumbuhan ekonomi kita besar tetapi kondisinya seperti itu. Kalau pertanian kita kuat, pertumbuhan ekonomi akan lebih baik pemerataan desa akan terlihat," tambahnya.
Sayangnya pada perkembangan dari hasil Paket Bali, keinginan negara berkembang untuk menaikan subsidi pertanian 15% tetap ditentang oleh negara maju. Belum lagi kepentingan negara-negara miskin yaitu List Development Countries (LDCs) yang juga belum banyak disuarakan.
"Negara-negara maju tetapi ingin memberikan subsidi besar dan tarif bea masuk tinggi bagi produk pertaniannya. Saat ini negara maju keberatan dengan fasilitas negara-negara berkembang," sebut Gobel.
(Wiji Nurhayat/Angga Aliya)











































