Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel menyatakan, Indonesia punya misi khusus hadir di KTM WTO ke-10. Salah satunya adalah menyelesaikan sekaligus mengimplementasikan hasil Paket Bali terutama di sektor pertanian.
"Posisi Indonesia kepentingan kita juga dong. Salah satu yang dibahas adalah pertanian. Kita tetap pada posisi kita," kata Gobel saat menghadiri seminar internasional dengan tema On Post Bali Work Programme di Hotel Borobuddur, Jakarta, Jumat (29/05/2015).
Sesuai hasil Paket Bali, Gobel menegaskan, Indonesia pada intinya tetap menginginkan agar subsidi pertanian negara-negara berkembang ditetapkan 15% dari nilai produksi. Gobel juga menginginkan agar negara-negara maju juga ikut menurunkan subsidi pertanian serta menurunkan tinggi tarif impor bea masuk produk pertanian.
"Negara maju pertaniannya juga disubsidi. Kita harus jaga kepentingan nasional kita juga. Kita juga punya kepentingan. Ada win-win saling menguntungkan bagi Indonesia," tambahnya.
Gobel menceritakan, sama seperti penyelenggaraan di tahun 2013 lalu, KTM WTO di Nairobi nanti masih menjadi perang sengit antara negara-negara maju seperti AS, Kanada, Jepang dan Uni Eropa.
AS kemungkinan besar akan tetap ngotot agar subsidi pertanian bagi negara-negara berkembang tidak sampai 15%. Kemudian negara-negara maju dimungkinkan tetap akan memberikan tarif bea masuk impor cukup tinggi untuk melindungi produk buatannya.
"Saat ini terdapat konstelasi bila negara maju keberatan dengan fasilitas negara berkembang yang dinikmati oleh emerging economies. Dengan kondisi itu, perundingan bisa terancam macet," tuturnya.
Untuk itu, Gobel berpendapat agar seluruh negara yang tergabung di WTO harusnya menciptakan perdagangan yang adil. Bukan hanya menguntungkan bagi negara maju saja.
"Pengalaman saya baru duduk menjadi menteri, semua negara mau untung. Dalam berdagang ada 3 poin yang penting yaitu saling hormat, mempercayai dan mengambil benefit. Ini bahasa dagang," tekan Gobel.
(Wiji Nurhayat/Dewi Rachmat Kusuma)











































