Setelah dievaluasi dan alasan efisiensi, akhirnya AP II memilih untuk menghentikan rencana pembangunan proyek 'Sang Dara'.
"Kalau kereta monorel (Sang Dara) kita ganti karena kurang mendukung standar keselamatan dan dia kurang fleksibel," ungkap Direktur Utama AP II Budi Karya saat ditemui di Gedung Kemenhub, Jakarta, Rabu (3/6/2015).
Sebagai gantinya, AP II berencana akan membangun kereta otomatis tanpa masinis yang diberi nama Automated Guided Train (AGT). Jenis kereta otomatis ini sudah dipakai di Bandara Changi, Singapura.
"AGT itu kayak di Bandara Changi Singapura," tambahnya.
AP II sudah menyiapkan sejumlah dana segar hingga Rp 1 triliun untuk membangun AGT. AGT nantinya akan beroperasi mengelilingi terminal 1, 2 dan 3 Bandara Soetta. Ditargetkan proyek ini rampung akhir tahun 2016 mendatang.
"Rencana selesai tahun 2016," tandasnya.
Sebelumnya, Operator Bandara Soetta itu akan menyediakan fasilitas moda transportasi modern untuk mendukung mobilitas penumpang. Moda tersebut bernama Sistem Angkutan Bandara atau disingkat 'Sang Dara'.
Sistem ini memakai moda kereta monorel (automated people mover system). Kereta monorel ini kembangkan secara keroyakan di dalam negeri oleh konsorsium BUMN yang diketuai PT Adhi Karya Tbk (ADHI).
"Sang Dara atau sistem angkutan bandara ini sinergi BUMN. Kalau konsorsiumnya ADHI, LEN dan INKA," kata Monorel Engineering Adhi Karya Darmawan
Sang Dara saat itu beroperasi dengan cara berputar secara otomatis untuk menghubungkan terminal 1, 2 dan 3. Panjang rute perjalanan adalah 3 kilo meter(KM). Monorel ini akan berhenti di setiap terminal.
"Waktu mutar 7,89 menit dari depo sampai seluruh terminal dengan kecepatan 80 km/jam," jelasnya.
Sang Dara direncanakan bisa groundbreaking atau dimulai pembangunannya pada akhir 2014. Proses konstruksi memerlukan waktu 2 tahun namun akhirnya diputuskan untuk diganti dengan konsep AGT.
(feb/wij)











































