Ini 3 Bahan Pokok yang Segera Diimpor Pemerintah

Ini 3 Bahan Pokok yang Segera Diimpor Pemerintah

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 04 Jun 2015 10:58 WIB
Ini 3 Bahan Pokok yang Segera Diimpor Pemerintah
Jakarta - Untuk mengamankan harga pangan jelang puasa dan lebaran tahun ini, pemerintah memutuskan untuk membuka keran impor untuk tiga bahan pokok.

Hal tersebut sesuai instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbaras (ratas) semalam.

Presiden Jokowi, juga mengeluarkan tujuh instruksi untuk menanganan pangan jelang puasa dan lebaran, berikut instruksi presidien:

  1. Terjaminnya ketersediaan pangan dengan harga terjangkau.
  2. Mengadakan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok pangan.
  3. Menindak tegas penimbum BBM dan kebutuhan bahan pokok.
  4. Memprioritaskan kendaraan pengangkut logistik dan memberantas pungli agar ketersediaan pangan terjamin.
  5. Menjaga agar inflasi ekstrem tidak terjadi selama Ramadan dan Idul Fitri, caranya tentu dengan memantau harga kebutuhan pokok seperti beras, daging, telur, cabai, bawang, dan sayuran.
  6. Impor adalah solusi terakhir, diutamakan penyerapan hasil-hasil pertanian, perkebunan, dan pertenakan.
  7. Mempercepat dan menjamin kelancaran serta kelayakan distribusi raskin di bulan Juni 2015.
Untuk menjamin ketersediaan bahan panagan dengan harga terjangkau tersebut, Kementerian Perdagangan memutuskan untuk membuka keran impor untuk 3 bahan pokok, seperti diungkapkan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel di Istana Negara, Rabu (3/6/2015).

1. Bawang Merah

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada inflasi 0,50% pada Mei 2015. Salah satu penyumbang inflasi bawang merah yang menyumbang inflasi sebanyak 0,03%. Karena sepanjang Mei harga bawang merah mengalami kenaikan sekitar 6,19%, kenaikan tertinggi terjadi di Kupang dan Sumenep.

Naiknya harga bawang tersebut akibat dari kurangnya pasokan ke pasar. "Pemerintah siap lakukan impor bawang merah untuk melakukan stabilitas harga," kata Gobel.

Namun Gobel belum menentukan berapa besar volume bawang merah yang diimpor.

Ia mengakui, di sentra bawang merah seperti di Brebes, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya sedang panen bawang merah. Namun jumlahnya tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, apalagi sebentar lagi masuk bulan puasa dan lebaran.

"Ada produksi sudah panen, tapi belum bisa memenuhi kebutuhan," ucap Gobel.

2. Cabai

Penyumbang angka inflasi yang cukup tinggi pada Mei kemarin mencapai 0,50% karena naiknya harga cabai.

BPS mencatat harga cabai sepanjang Mei mengalami kenaikan sebesar 22,22%.

"Cabai merah kenaikan 22,22% andil 0,1%. Karena memang pasokan dari sentra produksi berkurangan. Terjadi kenaikan di 69 kota, tertinggi di Medan dan Banda Aceh," kata Kepala BPS, Suryamin, Senin lalu (1/6/2015).

Harga cabai memang menjadi momok bagi inflasi hampir setiap tahun. Untuk mengamankan pasokan cabai dan menstabilkan harga sepanjang puasa dan lebaran nanti, Kementerian Perdagangan juga membuka keran impor.

"Cabai merah itu ada kenaikan harga. Pemerintah siap lakukan impor untuk melakukan stabilitas harga," ucap Mendag Gobel di Istana Negara.

Impor dimungkinkan dapat terealisasi pada minggu depan. Namun Gobel belum mengetahui asal negara yang akan memasok pangan untuk Indonesia.

"Bisa saja, menjaga harga sebelum puasa dan lebaran, kan nggak sekaligus impor, kan itu barang masuk seminggu. Belum tahu dari China darimana," ungkap Gobel.

3. Daging Sapi

Selain cabai dan bawang merah, kebutuhan masyarakat pada puasa dan lebaran paling tinggi nanti juga terjadap pada daging sapi.

Untuk mengamankan harga daging sapi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah mengeluarkan izin impor sapi total sebanyak 279.000 ekor sapi.

"Sudah dijalankan. Sudah dikelaurkan, realisasinya tentu akan dikontrol dari semua pemegang izin impor itu sendiri. Sekitar 11 perusahaan," ungkap Mendag Rachmat Gobel.

279.000 ekor sapi tersebut masih berasal dari Australia, yang terdiri dari 250.000 ekor sapi bakalan dan 29.000 ekor sapi siap potong.

"Masih, masih dari australia. Ke depan memang kita akan mempertimbangkan untuk impor dari negara lain, selain dari Australia," terangnya.
Halaman 2 dari 4
(rrd/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads