Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Industri Strategis BUMN, Muhammad Zamkhani mengatakan evaluasi atas kinerja produksi gula ke 62 pabrik tersebut sedang dilakukan. Bila ke 62 pabrik gula tersebut dianggap sudah tidak efisien pilihannya hanya 2 yaitu ditutup atau dilakukan revitalisasi dengan nilai investasi yang cukup besar.
"Kita akan konsentrasi bagaimana optimalkan pabrik gula BUMN yang jumlahnya 62 unit. Sama hanya Kemenperin (Kementerian Perindustrian) kita susun roadmap pabrik gula mana yang layak revitalisasi dan pabrik gula mana yang memasuki waktu pensiun. Ada pabrik kita yang usia di atas ratusan tahun," katanya saat diskusi pergulaan nasional di Menara KADIN, Kuningan, Jakarta, Kamis (4/6/2015)
Meski berusia cukup tua, ke 62 pabrik gula tersebut sampai saat ini masih bisa memproduksi gula. Namun Zamkhani menilai produktivitas ke 62 pabrik itu dinilai sudha tidak efisien lagi karena tingkat rendemen gula yang dihasilkan cukup rendah. Masalah kemudian timbul, apakah seluruh pabrik gula tersebut langsung dihentikan operasionalnya atau tetap dipertahankan dengan catatan perlunya direvitalisasi total.
"Tergantung identifikasi. Apakah cukup direnovasi saja," katanya.
Dari ke 62 pabrik gula itu, mayoritas beroperasi di Pulau Jawa. Selain itu persoalan lain yang menghantui pergulaan nasional selain banyaknya pabrik gula yang berusia tua adalah lahan tebu yang terus berkurang karena konversi lahan pertanian ke non pertanian.
"Di Jawa 95% merupakan tebu rakyat. Konversi lahan pertanian ke non pertanian melaju tinggi di Jawa," sebutnya.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) pernah mendata, dari 62 pabrik gula (PG) yang ada di Indonesia, 40 pabrik telah berusia antara 100-184 tahun atau dibangun sejak pemerintah kolonial Belanda seperti PG Assembagoes milik PT PN XI di Situbondo, Jawa Timur, PG Ngadirejo milik PT PN X di Kediri, dan PG Gempolkereb di Mojokerto milik PT PN X.
(wij/rrd)











































