Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Industri Strategis BUMN, Muhammad Zamkhani mengungkapkan diperlukan investasi US$ 500 juta-700 juta atau setara dengan Rp 9,1 triliun untuk membangun PG baru dengan kapasitas lahan 15.000 hektar dan produksi rata-rata 10.000 ton tebu per hari (TCD).
"Bangun PG berbasis tebu baru rasanya cukup berat secara komersial karena tadi yang pertama terkait kecukupan bahan baku. Kedua perihal investasi modal cukup tinggi sedangkan lahan sendiri sangat tergantung pada petani. Kalau kita tidak bisa bekerja sama dengan petani ya nanti juga jangan-jangan kekurangan bahan baku," katanya saat diskusi pergulaan nasional di Menara KADIN, Kuningan, Jakarta, Kamis (4/6/2015).
Dengan mahalnya investasi pembangunan PG baru, maka yang bisa dilakukan perusahaan-perusahaan BUMN adalah merevitalisasi PG yang sudah ada. Tidak hanya diperbaiki dari sisi peningkatan rendemen gula, namun ke PG diharapkan mampu masuk ke industri hilir seperti memanfaatkan ampas tebus yang dipakai sebagai bahan baku bioethanol hingga kogen sebagai bahan baku pembangkit listrik.
"Kita akan ke arah hilirnya termasuk bioethanol dan โkogen. Itu yang kita sedang evaluasi, mana yang bisa, mana yang tidak," tuturnya.
Selain itu, fokus utama perusahaan-perusahaan BUMN juga diminta untuk memperluas areal tanam tebu yang sekarang sudah banyak hilang karena kegiatan konversi lahan.
"Kita ketahui juga data dari Kementerian Pertanian konversi lahan pertanian menjadi non pertanian ini juga lajunya cukup tinggi, terutama di Jawa. Sehingga kita berebut dengan selain non lahan pertanian, juga dengan komoditas," sebutnya.
(feb/wij)










































