"Jengkol itu marjinal, itu hanya dikonsumsi kalangan tertentu. Jadi saya tidak mau mengomentari," kata Srie saat ditemui di Gedung Kemendag, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (5/6/2015).
Ia menambahkan, saat ini Kemendag lebih memperhatikan pergerakan harga komoditas bahan-bahan pokok menjelang puasa. Cara itu dinilai lebih penting terutama untuk menekan laju inflasi yang biasanya disebabkan oleh komoditas bahan pangan seperti beras, cabai hingga bawang merah.
"Kemendag akan fokus barang kebutuhan pokok saja bukan marjinal," tegasnya.
Harga jengkol saat ini terbilang cukup mahal bila dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tidakhanya Leli, penjual lain seperti Surani juga menyatakan keluhan yang sama atas tingginya harga jengkol.
"Harga jengkol hari ini Rp 70.000/kg, ada yang Rp 80.000/kg. Lagi mahal banget," tambahnya.
Kenaikan harga jengkol diprediksi akan terus berlanjut karena stok di pasar mulai berkurang. Sementara itu pasokan yang masuk juga terlihat cukup sedikit sehingga mengakibatkan harga melonjak drastis.
"Setengah bulan ini harga jengkol mulai naik dan cukup mahal. Dari Rp 50.000/kg naik jadi Rp 60.000/kg terus sekarang ada juga yang Rp 80.000/kg. Lagi nggak ada barang," sebutnya.
(wij/rrd)











































