<i>Blusukan</i> ke Pelabuhan yang Pernah Disinggahi Kapal Pesiar Terbesar Dunia

Laporan dari Hamburg

<i>Blusukan</i> ke Pelabuhan yang Pernah Disinggahi Kapal Pesiar Terbesar Dunia

Suhendra - detikFinance
Sabtu, 06 Jun 2015 09:36 WIB
Blusukan ke Pelabuhan yang Pernah Disinggahi Kapal Pesiar Terbesar Dunia
Hamburg - Setiap tahun rata-rata Pelabuhan Hamburg di Jerman disinggahi oleh kurang lebih 10.000 kapal dengan berbagai jenis, dari kapal kontainer hingga kapal pesiar (cruise).

Khusus kapal pesiar, setiap tahunnya ada 189 kapal pesiar yang berangkat atau singgah di pelabuhan terbesar kedua di Eropa ini dengan luas lahan hingga 7.200 hektar.

Setiap tahunnya ada 590.000 lebih penumpang kapal pesiar yang berangkat atau singgah di Pelabuhan Hamburg. Angka yang fantastis ini bukan tanpa alasan, karena Pelabuhan Hamburg hingga kini punya 2 terminal kapal pesiar lama dan baru.

Terminal kapal pesiar lama biasa disebut Hamburg Cruise Center atau Hafencity yang sudah ada sejak 1998, dan yang baru biasa disebut Cruise Center Altona.

Berdasarkan kunjungan detikFinance, Jumat (5/5/2015), Cruise Center Hafencity punya keunikan dari sisi konstruksi bangunan karena tersusun dari banyak kontainer berbagai ukuran yang tersusun dari berbagai bangunan, sedangkan terminal Altona merupakan terminal dengan arsitektur modern yang sudah beroperasi 4 tahun. Terminal Kapal Pesiar Lama berdekatan dengan lokasi Kampus Kuhn Logistics University (KLU).

Hamburg Port Authority (HPA) selaku pengelola kawasan Pelabuhan Hamburg mengakui selama ini terminal lama lebih banyak disinggahi kapal pesiar karena bentuknya yang unik. Sedangkan terminal yang baru justru sebaliknya.

Terminal lama sebelumnya pernah disanggahi Kapal Pesiar Queen Mary 2, tercatat pada Juli 2004 lalu, kapal pesiar terbesar ini menepi di pelabuhan kedua terbesar dan tersibuk di Eropa tersebut.

Nama kapal ini diberikan langsung oleh Ratu Elizabeth II. Queen Mary 2 mampu diisi sebanyak 3.056 penumpang serta memiliki panjang 345 meter.

Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino mengatakan Indonesia perlu belajar tentang pengembangan bisnis dan pembangunan terminal untuk kapal pesiar. Menurutnya membangun terminal kapal pesiar yang memadai tidaklah mudah dan tak terlalu mahal.

"Dari sisi pemasukan untuk pengelolaan terminal kapal pesiar tak besar, namun justru bisa menggerakkan ekonomi khususnya ekonomi maritim," kata Lino.

Lino sempat yang melakukan kunjungan lapangan kedua lokasi terminal kapal pesiar tersebut. Ia menyimpulkan bahwa membangun terminal kapal pesiar tak perlu besar namun yang paling penting pelayanannya seperti pemeriksaan imigrasi, karena secara prinsip terminal kapal pesiar hanya lah pintu masuk para turis yang akan masuk kota tujuan.

"Ini sederhana sebenarnya. Masak begini saja nggak bisa dikerjakan," kata Lino sambil menunjuk ke arah ruangan di terminal kapal pesiar.

Di Terminal Kapal Pesiar Altona, tak terlihat ada yang istimewa, terlihat hanya lahan kosong dalam ruangan, dan tak banyak kursi penumpang yang ada. Selain itu terlihat hanya ada pintu gerbang imigrasi.

Namun Lino mengakui pengembangan kapal pesiar di Indonesia punya kendala terkait azas cabotage terkait Undang-undang Pelayaran‎. Dalam azas cabotage bahwa barang dan penumpang dari dan ke pelabuhan-pelabuhan wajib diangkut kapal berbendera Indonesia. Hal ini tentunya menjadi masalah ketika faktanya kini perusahaan-perusahaan kapal pesiar justru berbendera asing.

Berikut beberapa penampakan terminal kapal pesiar dan kapal pesiar yang singgah di Pelabuhan Hamburg:

(hen/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads