"Memang masa produksi terendah tanaman jengkol itu antara bulan Mei dan Juni. Ini hanya siklus tahunan saja, nanti produksi naik harga pasti turun karena tanaman jengkol kan di tanam di pedesaan sebagai selingan berbeda dengan padi," katanya kepada detikFinance, Sabtu (6/6/2015).
Belum masuknya masa panen tanaman jengkol, membuat pasokan jengkol dari sentra produksi seperti di Banten dan Jawa Barat yang masuk ke Jakarta berkurang signifikan. Kondisi ini membuat harga jengkol melonjak 100%.
"Jengkol bukan sengaja diproduksi massal jadi kenaikannya bisa berlipat," tambahnya.
Bahkan dari informasi yang diterima Andreas, harga mengalami kenaikan cukup tajam hingga di atas Rp 100.000/kg di Kota Bogor. "Saya dengar dari beberapa pedagang di pasar-pasar tradisional Bogor sudah di atas Rp 100.000," sebutnya.
Namun kenaika harga yang cukup tajam itu tidak akan berpengaruh banyak, salah satunya adalah sebagai penyumbang inflasi. Ia menegaskan jengkol bukanlah bagian komoditas pokok seperti beras, kedelai, cabai hingga bawang.
"Ada masyarakat yang hobi sama jengkol, ada orang-orang tertentu yang tidak bisa meninggalkan jengkol. Sementara masyarakat lain bisa mensubtitusinya saat harga naik saat pasokan sangat terbatas. Tapi ini tidak signifikan pengaruhnya ke masyarakat karena ukurannya masih di bawah bawang merah, bawang putih, cabai, dan bahan makanan pokok lainnya," jelasnya.
(wij/ang)











































