Mengenal Lebih Dekat Cara Hidup Warga Perbatasan Papua-Papua Nugini

Mengenal Lebih Dekat Cara Hidup Warga Perbatasan Papua-Papua Nugini

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Minggu, 07 Jun 2015 11:00 WIB
Mengenal Lebih Dekat Cara Hidup Warga Perbatasan Papua-Papua Nugini
Warga Papua Nugini berbincang dengan detikFinance
Merauke - Warga perbatasan RI di Sota, Merauke, Papua kini sudah bisa hidup berdampingan dengan damai bersama warga Papua Nugini. Mereka juga saling melengkapi kebutuhan hidup satu sama lain.

Bastian (32), warga Papua Nugini, selalu menyambangi Sota sekadar untuk mencari beras dan garam untuk makan.

Sebaliknya, Bastian pun membawa daging rusa, babi, musang, dan kangguru untuk dijual kepada warga Sota.

Bastian dan kawan lainnya yaitu Batik Sobini (27), James (22), dan Erik (17), bebas mondar-mandir menyambangi Sota dengan mengayuh sepeda, tanpa perlu ada penjagaan ketat.

"Ya kami sering ke sini. Pagi, siang, sore, kami bolak-balik ke sini. Bawa daging rusa, babi, musang, kangguru untuk dijual. Kalau kami biasanya beli beras dan garam dari sini," ujar Bastian saat berbincang bersama detikFinance di daerah perbatasan RI di Sota, Merauke, Papua, Minggu (7/6/2015).

Bastian menyebutkan, satu kilogram daging rusa ia hargai Rp 35.000, sementara daging babi harganya ditentukan berdasarkan ukuran babi, kisarannya dari Rp 150.000 hingga Rp 500.000 per ekor.

Transaksi dilakukan dengan menggunakan mata uang masing-masing. Rupiah untuk Papua dan Kina untuk Papua Nugini. Nilai tukarnya, 1 Kina Papua Nugini nilainya Rp 2.700. Dua mata uang ini berlaku di kedua wilayah. Bedanya, Kina Papua Nugini hanya berlaku di daerah perbatasan saja.

"Bayar kita bisa pakai rupiah, bisa pakai kina," ucap Bastian.

Heru, warga pendatang asal Jawa yang sudah menetap 20 tahun di Merauke bercerita, warga perbatasan RI-Papua Nugini memang sudah hidup berdampingan dengan damai. Sudak tak ada lagi kontak senjata seperti yang sering terjadi pada 2003 silam.

Warga Sota maupun Papua Nugini sudah hidup makmur dengan mata pencahariannya sebagai petani. Ada yang menanam ubi, talas, bahkan berkebun kayu mahotan yang menghasilkan minyak kayu putih.

Tak hanya bercocok tanam, warga perbatasan juga mengenal pendidikan, meskipun belum mayoritas. Tak sedikit, warga Papua Nugini bersekolah gratis di Sota.

Sayangnya, mereka masih belum melek keuangan. Hidup mereka hanya memikirkan untuk saat ini. Hari ini dapat uang, bisa makan, besok cari uang lagi, begitu seterusnya.

"Belum bisa mengelola keuangan, masih kayak gini-gini saja, cari uang hari ini buat makan, terus habis," katanya.

Soal infrastruktur, daerah perbatasan ini dibilang masih minim. Hanya rumah-rumah kecil dan tidak banyak bangunan di sini. Untuk sampai daerah perbatasan, dari Kota Merauke dengan jarak tempuh 89 Km dibutuhkan waktu 1 jam menggunakan jalan darat.

Tak ada lampu penerangan sepanjang jalan yang dikelilingi hutan itu. Tapi memang, jalan menuju Sota ini sudah mulus, semuanya beraspal.

"Merauke ke Sota 89 Km, 1 jam pakai mobil. Nggak ada lampu penerang. Tapi jalan bagus semenjak SBY, pemerintah sekarang tinggal melanjutkan," ucap Heru.

(drk/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads