BBM Naik, Tak Ada Alasan Tarif Telepon dan Listrik Ikut Naik
Jumat, 18 Feb 2005 17:55 WIB
Jakarta -
Meski pemerintah jadi menaikkan harga BBM, tidak ada alasan bagi Telkom dan PLN untuk selanjutnya ikut-ikutan menaikkan tarif telepon dan listrik."Tidak ada alasan PLN dan Telkom untuk ikut-ikut menaikkan tarif," kata pengamat ekonomi Faisal Basri dalam jumpa pers di Satai House, Menteng, Jakarta, Jumat (18/2/2005).Menurut Faisal, PLN semestinya segera mengkonversi pemakaian BBM dengan gas untuk mengefisienkan sehingga nantinya tidak perlu menaikkan tarif saat pemerintah menaikkan harga BBM. Demikian pula untuk tarif kendaraan umum, menurut Faisal, jika rata-rata kenaikan harga BBM 20 persen, maka semestinya tarif angkutan hanya naik 9 persen. "Jadi tidak ada alasan juga menaikkan harga transportasi menjadi 20 persen," tukasnya.Lebih lanjut Faisal menjelaskan, pemerintah harus memberikan kompensasi secara riil yaitu dengan menurunkan efek kenaikan BBM dulu, baru setelah itu menaikkan. "Turunkan efek BBM jadi nol. Kita selalu diiming-imingi dana kompensasi. Komitmen adilnya berikan pemanis dulu ke masyarakat, baru dinaikkan. Salah satunya dengan beban-beban diturunkan," papar Faisal. Faisal mengakui bahwa, secara ekonomi kenaikan harga BBM tidak bisa dihindarkan. Namun persoalannya adalah bagaimana meminimalisasi border dan redistribusi. "Jangalah kenaikan BBM jadi buah simalakama. Pemerintah harus mendesain bagaimana meminimumkan dampak ke masyarakat. Memang BBM harus naik. Karena dengan harga murah, jauh keekonomian sehingga konsumsi lebih banyak," tegasnya. Khusus kelompok marjinal seperti buruh menurut Faisal harus diberikan subsidi hingga Rp 5 triliun untuk sewa rumah murah di sekitar pabrik. Sementara waktu yang ideal untuk menaikkan BBM, Faisal mengatakan tepatnya adalah September atau oktober atau triwulan III karena dari segi momentum perekonomian sedang kondusif.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































