Pasar Tradisional di Indonesia Makin Terpuruk
Jumat, 18 Feb 2005 18:48 WIB
Jakarta - Kondisi pasar tradisional di beberapa wilayah Indonesia terpuruk. Di Jakarta terdapat 8 pasar tutup dan per tahunnya 400 kios tutup karena tidak kuat bersaing dengan hypermarket dan pasar modern serta kurangnya perhatian Pemda untuk mendukung infrastruktur pasar tradisional.Demikian dikatakan Ketua Asosiasi pedagang Pasar seluruh Indonesia (APPSI) Ibih T.G Hasan dalam konferensi persnya di Gedung Graha Wisata Kuningan, Jumat (18/2/2005). Menurut Ibih, pihaknya meminta pemerintah berhenti memberikan izin pendirian hypermarket baru dan bila ada hypermarket yang jangka waktunya sudah tidak diperbolehkan diperpanjang. "Bila mereka mau pindah ke keluar klota asal tidak diperpanjang diperbolehkan,""Di negara liberal seperti Hong Kong saja hanya ada dua hypermarket," katanya.Menurut survei AC Nielson pertumbuhan hypermarket 34,7 persen, sedangkan pasar tradisional minus 8 persen. "Artinya pasar tradisional tutup semua di bawah 10 tahun," katanya.Sementara itu, mengenai Gerakan Safari Motor Pasarku Bersatu merupakan lanjutan dari Gerakan Satu Juta Tanda Tangan. Gerakan ini akan dimulai dari Jakarta di Tugu Monas Monas pada 22 Februari 2005 dengan menempuh rute Jakarta - Cirebon - Semarang - Jogyakarta - Tasikmalaya - Bandung - Bogor dan kembali ke Jakarta. Gerakan ini berakhir pada 27 Februari 2005. Gerakan ini mendapat dukungan dari Menneg BUMN. Dalam gerakan itu, mereka akan menolak hypermarket berikut jaringannya dan stop izin baru. Tuntutan lainnya adalah mengelola pasar dengan profesional, memberikan jaminan kepastian tempat usaha yang layak, melibatkan pedagang dalam peremajaan dan pengelolaan pasar serta menuntut diterbitkannnya UU perpasaran yang melindungi pedagang pasar tradisional.
(mar/)











































