Β
Djarot mengatakan, akan lebih fleksibel menyerap beras petani agar stok beras pemerintah di gudang-gudang Perum Bulog sesuai target pemerintah. Selama ini, serapan beras Bulog terkendala dengan aturan bahwa tingkat kadar air harus sesuai standar yang ditetapkan.
"Katakan lah beras petani itu tidak memenuhi standar karena dianggap terlalu basah kadar airnya 14%-16% itu standar kita. Kalau yang lebih dari itu akan tetap kita serap. Tapi dengan equivalent (penyesuaian rata-rata harga tertentu). Misalnya di atas 14% berapa, di atas 16% berapa," kata Djarot di kementerian BUMN, Senin (8/6/2015).
Ia mengatakan dengan pendekatan baru ini, maka diharapkan Bulog lebih banyak menyerap beras petani lebih banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djarot mengatakan, prinsip fleksibelitas penyerapan beras ini akan dibarengi dengan langkah Bulog melakukan perbaikan kualitas. Ia berjanji akan menurunkan kadar air dalam beras yang tak sesuai dengan teknologi, yang penting beras petani bisa terserap tinggi.
"Tentu di dalam (internal bulog) akan dilakukan penyesuaian. Itu tugas kita. Misalnya beras yang diserap terlalu basah maka oleh Bulog akan dikeringkan sampai kadar yang sesuai standar," katanya.
Menurut Djarot, langkah pengeringan beras memang tak semuanya akan dilakukan oleh Perum Bulog. Namun bisa dikerjakan oleh pihak lain sehingga membuka peluang bagi sektor lain.
"Jadi kita serap semua beras petani, tapi kita perbaiki standarnya oleh kita. Kita tidak bisa paksakan petani memenuhi standar yang kita tetapkan. Tugas kita untuk itu. Jadi tetap kita serap beras petani tapi tidak membabi buta. Harus ada equivalent tertentu," katanya.
Seperti diketahui pada masa dirut Bulog sebelumnya, Perum Bulog belum bisa memenuhi target penyerapan beras petani.
Perum Bulog mencatat serapan pengadaan beras pada awal Mei 2015 baru mencapai 700.000 ton dari target 2,75 juta ton atau 25% dari target. Padahal Presiden Joko Widodo menargetkan serapan beras petani minimal 4-4,5 juta ton.β
(hen/rrd)











































