Salah satu yang paling terbaru adalah pengangkatan harta karun kapal Tiongkok dari Dinasti Ming abad 10 di Cirebon oleh perusahaan asal Belgia Cosmic Underwater.
"Jepang, China, dan Timur Tengah paling banyak," βungkap Sekjen Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam Indonesia (ASPBMKT) Harry Satrio saat berdiskusi di Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta, Senin (8/6/2015).
Tidak hanya itu, secara umum permintaan harta karun bawah laut seperti keramik dan guci di banyak negara-negara di dunia βjumlahnya cukup besar. Mereka mau membeli asalkan barang tersebut legal dan memiliki sertifikat resmi.
"Dubai, China, Hongkong, Eropa, dan AS besar permintaannya, tetapi mereka mau legal seperti adanya catalog, film dokumenternya," tambahnya.
Bahkan ke depannya, permintaan Dubai pada harta karuβn bawah laut jumlahnya cukup besar. Hal itu karena Dubai berencana akan membangun hotel bawah laut bernuansa maritim internasional di bawah Palm Island. Tentunya harus ada pemasok harta karun dan potensi terbesar ada dari Indonesia.
"Dubai menunggu kita karena ingin bangun hotel bawah laut di Palm Island, pasar jelas," katanya.
Alasan lainnya mengapa pembeli terbanyak didominasi asing karena menyangkut gengsi dan selera. Di luar negeri, orang belum ditentukan kaya bila tidak memiliki harta karun bernilai sejarah.
"Di luar orang kaya kalau tidak punya keramik tidak bisa dibilang orang kaya. Status sosial beda masing-masing negara," sebutnya.
Menurut Harry ini peluang bisnis yang cukup besar bagi Indonesia yang memiliki 464 titik lokasi BMKT dengan nilai diperkirakan mencapai Rp 127,6β triliun.
"Potensi Indonesia paling besar di dunia. Ceritanya pada waktu abad 12-17 bagaimana China sering datang ke nusantara salah satunya ke Majapahit abad 14. Lalu perdagangan China-Persia itu melewati Selat Malaka," jelasnya.
(wij/rrd)











































