Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Zaldi Masita mengatakan, negara-negara seperti Malaysia dan Singapura punya infrastruktur yang lebih baik. Infrastruktur menurutnya, jadi salah satu aspek yang memberikan pengaruh besar terhadap biaya logistik.
"Contohnya di transportasi itu dampak dari infrastruktur bisa sampai 30%. Kalau ke biaya logistik nasional, pengaruh infrastruktur itu 5%," kata Zaldi pada diskusi logistik di kantor Markplus, Wisma 88, Casablanca, Jakarta, Jumat (12/6/2015).
Dia mengatakan, dari studi yang dilakukan Bank Dunia, Indonesia berada di peringkat 50 untuk urusan biaya logistik yang masih mahal. "Kita memang jauh di bawah Malaysia dan Singapura. Mereka memang infrastrukturnya maju, tak ada ketimpangan," tuturnya.
Menurut Zaldi, biaya logistik di Indonesia masih di angka 24% dari PDB, sedangkan Malaysia 14%, Singapura 11%, kemudian Jepang 10%, dan Amerika Serikat (AS) 10%.
Selain infrastruktur, persoalan yang dihadapi di bidang logistik menurutnya adalah, kurangnya sumber daya manusia yang mengerti betul mengenai sektor ini. Bila dibandingkan Thailand yang punya 16 universitas logistik, Indonesia tak satu pun punya universitas yang menghasilkan lulusan sarjana logistik.
"Di Singapura itu per tahun ada pelatihan logistik 6.000 orang, Indonesia hanya 200 orang. Padahal jumlah penduduk kita jauh lebih banyak. Pelatihan mengenai bagaimana mengatur warehouse (gudang), pengiriman dan lainnya," tuturnya.
Karena biaya logistik yang tinggi ini, pengusaha mengeluh sulit bersaing dan tak sedikit dari mereka juga mengalami kerugian.
Di tempat yang sama, Staf Ahli bidang Logistik dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Sugihardjo menuturkan, soal infrastruktur Indonesia memang masih ketinggalan. Contohnya soal jalan tol, yang selama hampir 39 tahun, pemerintah Indonesia hanya mampu membangun sekitar 800 km. Jauh dibanding Malaysia apalagi China.
"Jagorawi itu dibangun tahun 1975, lalu Malaysia mulai membangun tol 10 tahun setelah Indonesia atau 1985, China bangun 13 tahun setelah Indonesia yaitu 1988. Tapi sekarang Indonesia baru 800 km, Malaysia sudah 4.000 atau 5.000 km, apalagi China yang sudah puluhan ribu. Infrastruktur ini memang menjadi PR kita," tuturnya.
(zul/dnl)











































