Direktur Utama AP II Budi Karya mengakui, ada beberapa bandaranya yang masih merugi. Kerugian diakibatkan investasi yang diguyur dalam jumlah besar, namun belum diikuti pendapatan yang sesuai target.
Hal ini wajar dalam sebuah bisnis, apalagi investasi di sektor bandara sangat besar. Minimal investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan bandara sekitar Rp 500 miliar.
"Bandara kita yang masih rugi seperti Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, Jambi, Banda Aceh, dan Silangit. Tapi kinerja mereka sudah mulai membaik, kecuali Silangit," kata Budi kepada detikFinance Jumat (12/6/2016).
Selain bermasalah soal lahan, tingkat kunjungan pesawat dan penumpang yang terbang dari atau ke Bandara Silangit relatif sedikit. Akibatnya beban operasional lebih tinggi daripada pemasukan. Total bandara yang dikelola oleh AP II mencapai 13 buah, yang rata-rata tersebar di Indonesia bagian barat.
Sama dengan AP II, AP I juga memiliki beberapa bandara dengan laporan keuangannya masih negatif. Total bandara yang dikelola oleh AP I mencapai 13 bandara.
Bandara yang masih rugi ialah Bandara Frans Kaisiepo di Biak, Bandara Sam Ratulangi di Manado, Bandara Adisumarmo di Surakarta, Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah, Bandara Pattimura di Ambon, dan Bandara El Tari di Kupang.
Sekretaris Perusahaan AP I Farid Indra Nugraha menjelaskan, bandara-bandara rugi tersebut rata-rata memiliki jumlah penumpang di bawah 3 juta orang per tahun. Akibatnya pendapatan yang diterima masih belum menutupi biaya operasi hingga investasi yang telah dikeluarkan.
"Bandara yang rugi tersebut masih disubsidi dari bandara yang untung," jelasnya.
(feb/dnl)











































