Keliling 8 Pabrik, Kepala BKPM Cek Investasi Produsen Rompi Anti Peluru

Keliling 8 Pabrik, Kepala BKPM Cek Investasi Produsen Rompi Anti Peluru

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 15 Jun 2015 14:30 WIB
Keliling 8 Pabrik, Kepala BKPM Cek Investasi Produsen Rompi Anti Peluru
Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memantau ketat perkembangan realiasi 100 proyek investasi Rp 219 triliun yang sedang berguliir termasuk 8 lokasi yang sudah dicek ke lapangan.

Sebanyak 8 proyek investasi sudah ditinjau ke lapangan oleh Kepala BKPM Franky Sibarani melalui program road show. Salah satunya adalah proses investasi ekspansi pabrik PT Sri Rejeki Isman (Sritex), sang produsen tekstil kelas dunia hingga rompi anti peluru, asal Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kepala BKPM, Franky Sibarani mengatakan hasil road show-nya dalam rangka pengawalan 100 proyek investasi tahap pertama. Ia mengatakan dari 8 sampel tersebut yaitu mencakup investasi senilai Rp 50,7 triliun.

Berikut daftar lokasi pabrik yang sudah ditinjau:

PT Cemindo, Lebak, Banten.
Industri semen ini rencana investasinya Rp 10,6 triliun. Realisasi hingga triwulan I 2015 mencapai Rp 8,54 triliun. Kapasitas produksi semen sebesar 3,7 juta ton per tahun. Menariknya, letak pabrik berdekatan dengan pantai sehingga dapat membuka aktivitas ekonomi baru.

PT Semarang Garment dan PT Kukdong Apparel Batang, Jawa Tengah (PMA Korsel)
Peluang yang dapat tercipta yaitu penyerapan tenaga kerja hingga 2.450 tenaga kerja. Industri ini bisa memperkuat ekspor karena 100% orientasi produk ekspor.

Sri Rejeki Isman
PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang berlokasi di Kabupaten Sukoharjo, Jateng sedang melakukan perluasan usaha dengan rencana investasi Rp 5,2 triliun, di bidang industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil, pemintalan benang (rencana investasi sekitar Rp 2 triliun, tahap konstruksi selesai 80%) dan penenunan. Lalu penyempurnaan dan percetakan kain/finishing (dengan rencana investasi Rp 3,2 triliun, tahap konstruksi selesai 20%). Pembangunan pabrik tersebut direncanakan akan selesai dan siap produksi pada akhir 2015 dan dapat menyerap tambahan tenaga kerja sekitar 2.000-3.000 orang.

Sritex juga melakukan perluasan ke industri hulu dengan memproduksi serat rayon (bahan baku benang) melalui anak perusahannya PT Rayon Utama Makmur, dengan rencana investasi US$ 250 juta. Dengan kapasitas produksi rayon 41.000 ton/tahun diharapkan dapat memenuhi kebutuhan serat rayon yang selama ini masih impor.

PT Rayon Utama Makmur
Realisasi investasi US$ 162 juta dari rencana US$ 250 juta. Penyerapan tenaga kerja 1.000 orang. Subtitusi impor bahan baku garmen mencapai US$ 65-69 juta.

PT Lestari Banten Energi (PMA Singapura)
Realisasi proyek 75% dengan realisasi konstruksi 45%. Nilai investasinya mencapai US$ 1 Miliar. Tenaga listrik yang mampu dihasilkan mencapai 660 MW. Menariknya, proyek ini merupakan proyek pembangkit pertama yang dibangun swasta tanpa menggunakan jaminan pemerintah Indonesia. Proyek pun berjalan cukup cepat, lebih cepat dari yang direncanakan.

PT Asahimas Chemical (PMA Gabungan Negara), Cilegon, Banten.
Proyek perluasan industri kimia ini direncanakan selesai pada akhir 2016. Rencana investasi perluasan mencapai US$ 400 juta. Realisasi sampai saat ini 29,5%.

Kendala proyek investasi ini masalah kebijakan importasi garam industri sebagai bahan baku. Garam sebesar 850.000 ton per tahun belum bisa dipenuhi dari dalam negeri. Secara regulasi, izin impor memang ada di Kemendag, BKPM hanya izin investasi. Namun BKPM tidak bisa juga melakukan pembatasan impor garam karena memang belum bisa diproduksi dalam negeri.

PT Chandra Asri Petrochemical, Cilegon, Banten.
Industri minyak dasar ini nilai investasinya mencapai Rp 3,7 triliun dan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 100 orang. Proyek perluasan ini antara lain meningkatkan produksi ethelene menjadi 860.000 ton per tahun dari 600.000 ton per tahun.

Realisasi triwulan I investasinya mencapai 49,8%, diperkirakan selesai akhir 2015. Proyek perluasan ini akan dapat menghemat devisa/substitusi impor sebesar US$ 744 juta/tahun.

PT Synthetic Rubber Indonesia (PMA Swiss)
Rencana nilai investasi US$ 400 juta dengan realisasi saat ini US$ 53 juta. Industri karet buatan ini menyerap 150 orang tenaga kerja. Rencana nilai ekspornya mencapai US$ 400 juta/tahun. Industri bahan baku ban ini bisa meningkatkan nilai ekspor dan memperkuat industri di Indonesia.

(hen/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads