Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia (Perindo), Agus Suherman mengatakan, dirinya memiliki usul agar dalam RUU ini ada penugasan pemerintah kepada BUMN perikanan. Agus ingin agar BUMN perikanan bertugas seperti Bulog, namun disektor perikanan.
"Capek saya lihat nelayan susah. Saat gelombang tinggi, tidak bisa apa-apa, tidak melaut. Saat dolar naik terus, harga pakan juga naik (pembudidaya)," jelas Agus.
Dia mengatakan, lahan budidaya perikanan Indonesia mencapai 17,7 juta hektar. Dari luas tersebut, baru 5% yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Perindo, ujar Agus, ingin membangun gedung penyimpanan ikan, sehingga kapasitasnya naik dari 600 ton menjadi 5.000 ton. Bahkan akan terus ditingkatkan hingga 10.000 ton.
"Semua itu kami lakukan supaya tangkapan nelayan bisa kami tampung. Jika tangkapan berlebih, tidak perlu ikan ditolak dan dibuang begitu saja. Saat harga tinggi, ikan akan kami keluarkan," kata Agus.
Selain itu, tahun depan BUMN ini akan mengoperasikan pabrik pakan ikan. Ini dilakukan untuk mengatasi tingginya harga pakan yang mayoritas diimpor. Harga pakan impor saat ini Rp 9.000/kg, sementara bila diproduksi di dalam negeri bisa mencapai Rp 6.500/kg, meski bahan bakunya tetap diimpor.
"Selain itu, kami buat pabrik pakan udang. Harga pakan impor itu Rp 13.000/kg. Kalau kami produksi sendiri, bisa jual dengan harga Rp 9.000/kg. Itu meringankan beban nelayan untuk biaya tangkap udang dan ikan," ungkap Agus.
(dnl/hen)











































