Ekonomi Lesu, Penjualan Kulkas Hingga Mesin Cuci Turun

Ekonomi Lesu, Penjualan Kulkas Hingga Mesin Cuci Turun

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 17 Jun 2015 14:10 WIB
Ekonomi Lesu, Penjualan Kulkas Hingga Mesin Cuci Turun
Jakarta - Melemahnya daya beli masyarakat Inodnesia dibarengi dengan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat terhadap rupiah. Imbasnya, penjualan produk PT LG Electronics Indonesia pun turun.

Marketing Director PT LG Electronic Indonesia Eric Setiadi mengatakan, sejak awal tahun hingga kini, pihaknya mengalami penurunan penjualan produk hingga 20%.

"Secara average (rata-rata) semua produk elektronik kita memang turun, tapi saya kira bukan hanya LG, kompetitor kita juga mengalami hal yang sama," ujar Eric ketika dihubungi detikFinance, Rabu (17/6/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain akibat tingginya dolar AS, yang hari ini saja sudah mencapai Rp 13.370, turunnya penjualan LG juga akibat lesunya perekonomian di dalam negeri, terlihat dari pertumbuhan ekonomi RI yang hanya 4,7% di kuartal I-2015.

"Dolar memang pengaruh, tapi faktor lainnya juga kondisi ekonomi masyarakat kita. Dari air conditioner, kulkas, mesin cuci marketnya turun," terang Eric.

Menurut Eric, menguatnya dolar ikut berimbas pada turunnya marjin keuntungan perusahaan. Sebab, banyak komponen impor perusahaan yang naik harga.

"Karena dolar kan tinggi, otomatis harga komponen impor juga naik. Saya tidak bisa sebutkan, tapi marjin ditanggung perusahaan. Kita belum bisa menaikkan harga barang saat ini," kata Eric.

Meski marjin susut akibat kenaikan dolar AS, Eric masih optimistis penjualan tahun ini bisa tetap di atas penjualan tahun ini.

"Kalau dalam 3 tahun terakhir penjualan di Indonesia dan ekspor berkisar mencapai Rp 20 triliun. Marjin turun masih bisa ter-cover, karena kita masih market leader dengan 30% pasar elektronik di Indonesia secara umum, apalagi loyalitas konsumen LG juga sangat baik" jelasnya.

Perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) itu sudah punya strategi untuk mengantisipasi marjin yang tergerus dolar AS tinggi. Caranya dengan lakukan efisiensi produksi.

"Marjin turun, tapi kita dorong dengan efisiensi produksi. Apalagi harga produk tidak ada kenaikan, saya rasa masih bagus, kita kan juga ada ekspor," kata Eric.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads