Jokowi Mau Bangun Mega Proyek Triliunan Lewat BUMN, Uangnya Dari Mana?

Jokowi Mau Bangun Mega Proyek Triliunan Lewat BUMN, Uangnya Dari Mana?

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 23 Jun 2015 12:16 WIB
Jokowi Mau Bangun Mega Proyek Triliunan Lewat BUMN, Uangnya Dari Mana?
Jakarta -

Pemerintahan pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki program pembangunan sejumlah mega proyek infrastruktur hingga 5 tahun ke depan. Program tersebut, seperti pembangunan pembangkit listrik, jalan tol, pelabuhan, sampai jaringan kereta cepat dan ringan.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta terlibat dalam mega proyek tersebut. Lantas dari mana BUMN dan pemerintah memperoleh dana dalam jumlah besar?

Menteri BUMN Rini Soemarno pernah mengungkapkan, China melalui Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) dan China Development Bank (CDB), memiliki komitmen membiayai mega proyek pemerintah dan BUMN, seperti kereta cepat rute Bandung-Jakarta, kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT), jalan tol Trans Sumatera, dan pembangkit listrik 35.000 Mega Watt (MW). Total komitmen China mencapai US$ 50 miliar atau setara Rp 650 triliun (asumsi kurs US$ 1=Rp 13.000).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu pembicaraan di China ada MoU The China Development Bank (CDB) siapkan dana US$ 20 miliar, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) US$ 20 miliar untuk BUMN infrastruktur, dan PLN US$ 10 miliar," kata Menteri BUMN Rini Soemarno beberapa waktu lalu.

Kerjasama pembiayaan ini tampak makin serius. Minggu lalu, Rini bersama petinggi Kementerian BUMN juga melakukan pembicaraan khusus yang kedua di China terkait komitmen pinjaman. Kunjungan ini dilakukan Rini sebelum terbang ke acara Paris Air Show 2015.

Untuk mencairkan pinjaman tersebut, BUMN harus menyusun studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek yang bakal dibiayai.

Dari US$ 50 miliar komitmen pinjaman, sebesar US$ 10 miliar atau hampir senilai Rp 130 triliun akan dialokasikan untuk membantu PT PLN (Persero) membangun pembangkit listrik baru, dalam program pembangkit 35.000 MW.

"Yang pasti dari US$ 50 miliar, US$ 10 miliarnya untuk PLN. Kalau memang untuk program pembangunan transmisi maupun power plant (pembangkit listrik)," sebutnya.

Ternyata komitmen pinjaman tidak berhenti di situ, Rini juga menyebut KfW Bankengruppe alias bank pembangunan milik pemerintah Jerman berkomitmen mengucuri pinjaman kepada BUMN Indonesia US$ 2 miliar atau setara Rp 26 triliun.

Dana pinjaman tersebut, lanjut Rini, akan diprioritaskan untuk membantu pembiayaan pembangkit listrik dan pembiayaan pengadaan kapal.

"Yang US$ 300 juta sudah tanda tangan dengan PLN, kita juga sedang bicara kemungkinan kapal juga untuk Pelni karena kapal Pelni yang dipakai sekarang kapal-kapal dari Jerman," ujarnya.

(feb/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads