400.000 Ton Raskin Tak Layak, Perpadi: Beras Bau Bila Disimpan 3 Bulan

400.000 Ton Raskin Tak Layak, Perpadi: Beras Bau Bila Disimpan 3 Bulan

Lani Pujiastuti - detikFinance
Selasa, 23 Jun 2015 15:16 WIB
400.000 Ton Raskin Tak Layak, Perpadi: Beras Bau Bila Disimpan 3 Bulan
Jakarta - Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai konsen terhadap kualitas beras untuk masyarakat miskin (raskin) yang akan didistribusikan ke masyarakat yang berhak.

Selama ini sudah jadi rahasia umum banyak raskin yang disalurkan Bulog kualitasnya buruk bahkan tak layak konsumsi. Kondisi beras akan rusak dalam 3 bulan bila tak ada upaya penanganan hama.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa kemarin mengatakan saat ini ada 400.000 ton raskin yang tersebar di gudang-gudang Bulog kondisinya tak layak konsumsi sehingga harus dimusnahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) yang juga Mantan Dirut Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan pada masanya memimpin Bulog sudah ada sistem Cocoon untuk mengendalikan hama pada beras di gudang.

Sistem ini merupakan inovasi teknologi penyimpanan secara hermetik, yaitu teknik CO2 stack dan penggunaan plastik Cocoon. Teknik penyimpanan menggunakan CO2 stack sebetulnya telah diterapkan oleh Perum Bulog secara operasional semenjak tahun 1987.

Beras disungkup sekedap mungkin dengan plastik khusus, kemudian gas CO2 diinjeksikan hingga konsentrasinya mencapai minimial 80% dan komoditas dibiarkan tersungkup dengan gas CO2 hingga kurun waktu yang cukup lama dengan harapan respirasi komoditas dapat ditekan dan hama maupun jamur yang mungkin ada didalam komoditas dapat ditekan pertumbuhannya.

"Indonesia ini negara tropis dengan kelembapan yang tinggi. Apalagi iklim saat ini, mestinya beras hanya disimpan 3 bulan. Setelah 3 bulan akan bau dan pasti terjadi perubahan fisik karena cuaca lembab. Sepanjang tahun kita lembab, jadi kemungkinan munculnya serangga atau bau itu sangat situasional," kata Sutarto kepada detikFinance, Selasa (23/6/2015)

Ia mengatakan, selain memakai sistem pengendalian hama, pergudangan Bulog harus memakai sistem FIFO atau First in Fisrt Out. Artinya beras yang lebih dahulu masuk gudang, harus diprioritaskan untuk keluar gudang.

"Perputaran beras di Bulog mestinya pakai sistem FIFO atau First in Fisrt Out. Saya ngga tau kebijakan Bulog yang sekarang. Supaya, beras yang pertama diserap, juga pertama dikeluarkan, tidak terlalu lama disimpan," katanya.

Menurutnya untuk bisa merealisasikan konsep FIFO, maka Bulog bisa mengembangkan sistem gudang beras yang lebih modern yaitu memakai tempat silo, yang biasa digunakan oleh industri tepung terigu menyimpan gandum.

"Kita mesti bangun sistem silo untuk penyimpanan beras curah di gudang-gudang bulog. Sistem silo itu pakai kotak-kotak kayu berplat logam dengan bangunan yang tinggi, modern, dan berkapasitas besar," katanya.

(hen/rrd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads