Pedagang Busana Muslim Tanah Abang: Puasa Ini Paling Sepi

Pedagang Busana Muslim Tanah Abang: Puasa Ini Paling Sepi

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 23 Jun 2015 17:05 WIB
Pedagang Busana Muslim Tanah Abang: Puasa Ini Paling Sepi
Salah satu pedagang mukena di Pasar Tanah Abang (Foto: Idris/detikFinance)
Jakarta - Lesunya ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir menjadi pukulan berat bagi penjual busana muslim di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sejumlah pedagang mengaku omzet turun hingga separuhnya jika dibandingkan tahun lalu.

"Jauh mas bedanya. Turun banget, masuk puasa kemarin memang ramai, tapi ramainya jauh dibanding tahun sebelumnya. Paling sepi puasa ini, mungkin orang lagi hemat belanja sama kebetulan harinya pas sama anak baru sekolah," tutur Desty Nurmanegara, pedagang busana muslim di Blok B Tanah Abang ditemui detikFinance, Selasa (22/6/2015).

Desty mengaku omzetnya menyusut drastis hingga lebih dari 50%. Tahun lalu ia sulit dapat waktu istirahat akibat saking banyaknya pembeli, hal berbeda terjadi tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sepinya memang benar-benar sepi. Dulu puasa mana sempat selonjoran saking ramainya, sekarang malah bingung yang beli sedikit, banyakan bengong," ungkapnya.

Dalam sehari, jika sebelumnya bisa menjual hingga 150 potong gamis, kini Desty mengaku hanya bisa menjual kurang lebih 50 potong baju gamis muslim.

"Kalau dulu bisa setor Rp 15 juta, sekarang dapat sehari Rp 3 juta saja sudah sukur. Sementara produksi terus jalan, akhirnya barang numpuk di toko, puasa ini bisa dikatakan paling berat," kata Desty.

Hal senada juga diungkapkan Yurnalis, pedagang mukena Blok B Pasar Tanah Abang. Puasa tahun ini jumlah pembeli turun drastis.

"Jauh mas kalau dibanding puasa tahun lalu, harga kan sekarang apa-apa mahal. Jadi mikir juga masyarakat mau belanja baju. Kalau dulu bisa dapat Rp 50 juta sehari omzetnya, sekarang paling sekitar Rp 10 juta," kata Yurnalis.

Mendekati lebaran, sambung Yurnalis, dirinya tak bisa berharap banyak pada kenaikan penjualan saat mendekati lebaran.

"Dalam setahun paling ramai sebelum dan minggu pertama puasa, kalau di situ saja udah sepi, susah sampai lebaran," keluhnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads