"Saya dengar beliau juga akan langsung bentuk task force," kata Kepala Staf Kepresiden Luhut Panjaitan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (23/6/2015)
Hal ini dianggap relevan dengan beratnya tugas pembenahan tata alur barang di Pelabuhan Priok. Lambatnya proses dwelling time, antara lain membuat biaya logistik Indonesia sangat tinggi. Apalagi 60% kegiatan ekspor impor di Indonesia masih mengandalkan Tanjung Priok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hampir Rp 744 triliun, Presiden bilang ada potential loss inefisiensi di pelabuhan. Jadi kalau kita soft reform saja bisa menghemat cukup besar sekali," ujarnya.
Luhut menegaskan kemarahan Presiden Jokowi di pelabuhan Tanjung Priok beberapa waktu lalu bukanlah sekedar basa basi. Ini akan dipantau terus sampai dengan tuntas.
"Menurut saya kehebatan Presiden, dia selesai ini dia nggak berhenti, diikutin berikutnya, make sure apa yang diperintahin dilakukan apa nggak. Karena kalau kita hanya liat marah-marah, nggak diikutin. Kita nggak tahu yang kita instruksikan dijalankan apa nggak," katanya.
(mkl/hen)











































