Toni, salah satu pedagang di pusat grosir baju impor impor di Jakarta Utara ini mulai memanfaatkan penjualan secara online sejak beberapa bulan yang lalu.
"Kita main online buat perluas pasar saja. Tapi kita tetap utamakan toko yang di sini. Karena memang ada positifnya masing-masing," kata Toni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beda sama barang elektronik ada garansi, kalau online baju nggak cocok susah balikin, gak cocok modelnya ternyata nggak sesuai gambar, nggak pas ukuran susah, jadi saya rasa orang masih lebih suka belanja langsung, apalagi yang hobi belanja," katanya kepada detikFinance, Rabu (24/6/2015).
Meski begitu, dia mengakui penjualan online di tokonya cukup laris. Malah biasanya bisa mewakili 50% dari total penjualan per bulan.
"Karena memang yang beli online kan juga pelanggan lama kita, jadi sudah tahu barangnya," jelas pemiliki Domino Fashion ini.
Sementara pedagang lainya, Nita Sebayang, mengaku juga berencana membuka toko virtual untuk penjualan baju batiknya.
"Online mau rencana buat tambah penjualan, kita kan harus ikuti zaman. Kalau sekarang sebenarnya jual virtual juga, tapi masih sebarkan via pesan Blackberry saja, kalau online khusus belum punya, mau lebaran nanti sudah jalan kalau bisa," kata Nita.
(ang/ang)










































