Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 25 Jun 2015 13:46 WIB

RI Perlu Belajar dari China dan Korsel Soal Bonus Demografi

Dana Aditiasari - detikFinance
Jakarta - Indonesia perlu belajar dari China dan Korea Selatan (Korsel) dalam memanfaatkan kondisi bonus demografi. Kedua negara tersebut berhasil memanfaatkan kelebihan jumlah penduduk usia produktif.

Seperti diketahui beberapa tahun ke depan Indonesia akan menikmati bonus demografi. Artinya jumlah penduduk usia produktif mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk.

Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus 2010 adalah 237,64 juta jiwa. Dari jumlah itu, 157,05 juta jiwa berada di usia produktif yaitu 15-64 tahun.

Mantan M‎enteri Koordinator bidang Kesejahteraan Masyarakat (Menko Kesra) Haryono Suyono ‎dalam Diskusi mengenai Bonus Demografi di Indonesia yang digelar di Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (25/6/2015).

"Negara-negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi contohnya ‎China dan Korea," katanya.

Keberhasilan China, dapat dilihat dari penciptaan industri rumah tangga yang memproduksi berbagai komponen-komponen peralatan elektronika sehingga menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat luas di negeri tirai bambu tersebut.

"China berhasil membangun industri-ndustri rumahan yang diarahkan pada pembangunan industri penguatan komponen," katanya.

Sedangkan Korsel berhasil mengarahkan industri-industri rumah tangganya untuk membuat komponen telepon genggam alias handphone (HP).

"Di Korea juga berhasil. Korea nggak ada satu pun perusahaan yang bisa bikin HP. Karena industri rakyat‎ diarahkan untuk bikin komponen HP. Yang bisa bikin HP itu pabrik perakitan. Pabrik perakitan juga nggak bisa bikin HP kalau nggak ada komponen. Jadi saling melengkapi, dan pemerataan industri. Semua orang dapat kerjaan," katanya.

Ia menyarankan agar Pemerintah Indonesia bisa menerapkan pola serupa agar bonus demografi yang dialami Indonesia tidak berubah menjadi bencana demografi karena banyak orang tidak mendapat pekerjaan.

"Jadi kalau mau berhasil, Indonesia harus bisa bikin pemerataan pembuatan komponen di daerah-daerah. Tiap daerah punya spesifikasi industri sendiri dan yang beda-beda itu disatukan dalam satu produk menjadi produk nasional‎," katanya.

(dna/hen)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed