Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Bustanul Arifin mengatakan tata kelola rantai perdagangan komoditas masih kacau termasuk daging.
"Era SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) kita ingat ada target swasembada daging. Targetnya porsi impor daging tidak sampai 10%. Apa yang terjadi? Kebijakannya justru mengarahkan pada mengurangi konsumsi daging. Setelah itu muncul anomali," kata Bustanul dalam Diskusi Publik dan Buka Puasa Bersama berlokasi di Aula Graha Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Kantor DPP PKB, Cikini, Kamis (25/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika stok berkurang, kan ngga ada yang larang itu. 2013-2014 bebaskan impor sapi sebesar-besarnya. Akibat kebijakan itu kita ketergantungan 30% impor daging," katanya.
Bahkan saat ini, porsi impor daging sapi justru makin membesar. Porsi daging sapi yang impor dari kebutuhan sudah mencapai 46%.
"Data hari ini kita ketergantungan impor daging sampai 46%. Harga terus-terusan Rp 120.000/kg, ada apa ini?" tanya Bustanul.
Sudah 2 tahun lebih harga daging sapi khususnya di Jakarta dan nasional bertahan tinggi di atas Rp 100.000/Kg , kondisi ini ditanggapi Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel. Ia menegaskan harga yang bertahan tinggi ini masih dianggap wajar atau normal.
Harga rata-rata nasional daging sapi secara nasional mencapai Rp 104.000/Kg. Harga ini sudah turun dari harga rata-rata nasional pada 17 Juni 2015 yang sempat mencapai Rp 107.000/Kg.
"Harga 2 tahun bertahan di atas Rp 100.000 saya rasa masih wajar. Tahun lalu kan kita beli dengan kurs dolar Rp 10.000, saat ini kita beli dengan kurs Rp 13.000, saya rasa itu masih normal," kata Gobel
Konsumsi daging sapi di Indonesia per tahun mencapai 4 juta ekor dari impor dan lokal. Sebanyak 4 juta ekor sapi itu setara dengan 600.000 ton daging sapi. Pada 2014, Kemendag telah mengeluarkan izin impor daging sapi sebesar 170.000 ton.
(hen/rrd)











































