Kepala Balitbangtan Kementerian Pertanian Muhammad Syakir mengatakan, dari 34,4 juta hektar atau 20% dari total lahan pertanian tersebar di 17 provinsi. Palembang, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Pekanbaru, dan Jambi merupakan kota-kota besar yang tumbuh dan berkembang pada agroekosistem lahan rawa.
Ia mengatakan 34,3 juta hektar lahan rawa, sekitar 19,99 juta hektar (57,24%) merupakan lahan potensial untuk pertanian baik pada lahan APL (area penggunaan lain) maupun pada kawasan hutan produksi (HP) dan hutan produksi konversi (HPK).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil analisis potensi lahan, sekitar 3,17 juta hektar (15,84%) potensial untuk tanaman hortikultura dataran rendah (sayuran dan buah-buahan) dan atau tanaman tahunan (kelapa sawit, karet), dan sekitar 1,84 juta hektar (9,20%) potensial untuk tanaman tahunan pada lahan gambut.
Syakir mengungkapkan, keunggulan lahan rawa sebagai lumbung pangan di musim kemarau dan masa depan antara lain air berlimpah, lahan cepat pulih karena tersedia air, saluran air berfungsi sebagai sarana transportasi, 90% berada di dataran rendah dan produksi pada September-Desember saat defisit beras.
"Selain itu, lahan rawa lebih tahan terhadap perubahan iklim, dan hasil biji-bijiannya lebih kaya zat hara," katanya.
Ia menambahkan, lahan rawa menjadi strategis mengingat luas baku sawah secara nasional yang terdiri atas 9,2 juta hektar hanya sekitar 5,3 juta hektar yang ditanami secara rutin, selebihnya 3,9 juta hektar ditanami tidak rutin (bongkor) yang kerap terancam konversi.
"Pengembangan ke depan, lahan diarahkan pada kawasan pertanian terpadu. Saat ini telah tersedia inovasi berupa peta arahan pengembangan lahan rawa skala 1:50.000, varietas padi unggul rawa, teknologi pengelolaan air, teknologi pengelolaan lahan dan hara serta teknologi remidiasi dan mikrobiologi," katanya.
Berdasarkan riset, varietas padi yang telah dikembangkan untuk lahan rawa dengan potensi hasil 5-7 ton/ha antara lain varietas Martapura, Margasari, Siak Raya, Air Tenggulang, dan Lambur yang toleran masam dan keracunan besi, dan varietas Impara 4-5 yang toleran rendaman.
"Ke depan langkah-langkah terobosan pengembangan lahan rawa akan terus dilakukan mengingat tantangan perubahan iklim dan ancaman konversi," katanya.
(hen/rrd)











































