Areal tanam padi pada periode tersebut bertambah dari 8,1 juta hektar menjadi 8,5 juta hektar dari total 9,2 juta hektar lahan baku sawah, salah satunya karena peranan TNI melalui Bintara Pembina Desa (Babinsa) sebagai penyuluh pertanian.
Bahkan BPS berdasarkan angka ramalan pertama 2015, luas area panen di tahun ini juga diperkirakan naik 3,71% menjadi 512.060 hektar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya Kementan mencapai swasembada khususnya padi, melibatkan peran TNI. Alasannya, menurut Prasetyo yaitu TNI punya komitmen untuk mendorong dan memotivasi petani.
"Supaya petani mau kerja efisien dan meningkat produksinya. Sebab kalau nggak dikejar, target bisa nggak tercapai," ujarnya.
Perluasan areal tanam ini bukan berasal dari lahan baru. Luas tambah tanam diperoleh dari kenaikan indeks pertanaman (IP) dan optimalisasi lahan yang sudah ada namun belum dimanfaatkan petani.
"Luas tanamnya nambah karena beberapa daerah mampu nambah dari 1 kali musim tanam, menjadi 2 kali musim tanam. Lalu, lahan yang semula diistirahatkan, kita dorong supaya dimanfaatkan," jelasnya.
Konsekuensi dari penambahan luas tanam, yaitu lahan tidak ada 'masa istirahat'nya. Menurut Prasetyo, hal tersebut bukan efek samping yang buruk.
"Lahan nggak masalah kok kalau ditanam 3 kali sepanjang tahun. Hanya perlu pergantian varietasnya untuk memotong siklus hama," tambahnya.
Ia menggambarkan, misalkan varietas padi Ciherang yang tidak tahan hama wereng cokelat, pada musim tanam berikutnya diganti dengan varietas INPARI.
"Idealnya memang di'puso'kan dulu, tapi tanam terus pun ngga masalah. Kita ingin tanam itu serentak, supaya memudahkan irigasinya bisa merata," paparnya.
Selain adanya peranan TNI, faktor kebijakan pemerintah juga berperan menambah areal tanam di 2015.
(hen/hen)











































