Kepala Balitbang Kementerian Pertanian Muhammad Syakir mengatakan, meski badan yang dipimpinnya tersebut menelurkan puluhan benih hasil penelitian pertanian setiap tahun, hanya segelintir saja hasil penelitian tersebut yang bisa sampai dan dinikmati petani secara langsung.
"Kami lembaga pemerintah, tidak ada fungsi komersial. Makanya kami sekarang kerjasama agar ada penggandaan benih yang kita teliti bisa dilakukan oleh swasta, sekaligus mempercepat distribusinya," kata Syakir, ditemui usai MoU dengan PT Bisi Internasional Tbk di Gedung Balibang Kementan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami kerjasama dengan semua swasta. Dan kebetulan yang pertama dengan Bisi. Karena dia kan sudah pengalaman dalam produksi dan distribusi benih," jelasnya.
Syakir menuturkan, pihaknya tidak menerima sepeser pun, dari pemakaian benih unggul hasil penelitian Balitbang jika dipakai perusahaan benih swasta. "Kami non komersial, semua perusahaan bisa pakai, kecuali yang sudah lisensi baru bayar," katanya.
Soal harga benih hasil penelitian Balitbang yang nantinya diperbanyak dan dijual industri benih swasta, dirinya tidak bisa mengintervensi harga benih di tingkat petani. "Nanti kan sama Bisi dijual sesuai harga umum pasar," kata Syakir.
Menurutnya, meski memiliki ratusan peneliti yang tersebar di 33 provinsi, pihaknya kesulitan mengenalkan hasil penelitian pertanian pada petani. "Ini (kerjasama) dengan Bisi bisa jadi terobosan," tambahnya.
Pada tahap awal, Bisi baru akan memproduksi dan menjual benih padi hasil penelitian Balitbang bernama Inbrida. "Kami sudah siap produksi massal. Catatan saya, pabrik kami bisa memproduksi 20.000 ton benih padi per tahun," kata Direktur Utama Bisi Internasional, Jemmy Eka Putera.
(dnl/dnl)










































