Batan Luncurkan Kedelai Hitam Hasil Teknologi Nuklir

Batan Luncurkan Kedelai Hitam Hasil Teknologi Nuklir

Zulfi Suhendra - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2015 18:52 WIB
Batan Luncurkan Kedelai Hitam Hasil Teknologi Nuklir
Jakarta - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menciptakan varietas baru untuk kedelai. Kedelai hitam yang disebut dengan Mutiara 2 dan Mutiara 3, punya keunggulan lebih baik dibanding dengan benih kedelai lain pada umumnya.

‎Adalah Hari Is Mulyana bersama rekan-rekannya di Batan melakukan penelitian dari benih kedelai Cikurai menghasilkan Mutaira 2 dan Mutiara 3. Penelitian yang dilakuka‎n memakan waktu hingga 5 tahun dan menelan biaya Rp 500 juta untuk bisa meluncurkan produk penelitiannya ini.

"Kita lakukan penelitian dari 2008, di 2014 kita baru bisa presentasi ke Kementerian Pertanian, dan diumumkan baru bisa dilepas (ke pasar)," tutur Hari, ditemui di kantor Batan, Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (2/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hari mengatakan, untuk ‎melakukan penelitian 1 varietas, membutuhkan biaya hingga Rp 100 juta per tahun.

Mengenai Mutiara 2 dan Mutiara 3 ini, Hari mengatakan, produksi kedelai ini dikhususkan untuk bahan baku produk kecap, karena merupakan kedelai hitam. Menurutnya, kedelai jenis ini pun bisa dipakai untuk bahan baku tahu dan tempe.

"Tapi warnanya agak kusam," tutur dia.

Mutiara, lanjut Hari, adalah kepanjangan dari Mutan Unggul Teknologi Isotop dan Radiasi, karena secara teknis, kedelai ini diproses dari benih Cikurai dengan menggunakan tekonologi nuklir dengan radiasi sinar gama.

Hari membeberkan, keunggulan dari kedelai hitam ini a‎dalah dari segi produktivitas. Untuk Mutiara 2 memiliki potensi hasil 3 ton per hektar dengan rata-rata hasil 2,4 ton per hektar. Sedangkan Mutiara 3 punya potensi hasil 3,2 ton per hektar dengan rata-rata 2,4 ton per hektar.

"Kalau secara nasional itu rata-rata kedelai (biasa) produkt‎tivitasnya 1,4 ton per hektar," jelasnya.

Selain itu, ‎kedelai hitam ini memiliki kandungan protein yang tinggi dibanding yang lain. "Dan adaptif terhadap lingkungan, protein 3%, standarnya 2%, kental dan tahan terhadap penyakit karat daun," katanya.

"Ini bisa membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor," imbuhnya.

(zul/rrd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads