Adalah Hari Is Mulyana bersama rekan-rekannya di Batan melakukan penelitian dari benih kedelai Cikurai menghasilkan Mutaira 2 dan Mutiara 3. Penelitian yang dilakukan memakan waktu hingga 5 tahun dan menelan biaya Rp 500 juta untuk bisa meluncurkan produk penelitiannya ini.
"Kita lakukan penelitian dari 2008, di 2014 kita baru bisa presentasi ke Kementerian Pertanian, dan diumumkan baru bisa dilepas (ke pasar)," tutur Hari, ditemui di kantor Batan, Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (2/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai Mutiara 2 dan Mutiara 3 ini, Hari mengatakan, produksi kedelai ini dikhususkan untuk bahan baku produk kecap, karena merupakan kedelai hitam. Menurutnya, kedelai jenis ini pun bisa dipakai untuk bahan baku tahu dan tempe.
"Tapi warnanya agak kusam," tutur dia.
Mutiara, lanjut Hari, adalah kepanjangan dari Mutan Unggul Teknologi Isotop dan Radiasi, karena secara teknis, kedelai ini diproses dari benih Cikurai dengan menggunakan tekonologi nuklir dengan radiasi sinar gama.
Hari membeberkan, keunggulan dari kedelai hitam ini adalah dari segi produktivitas. Untuk Mutiara 2 memiliki potensi hasil 3 ton per hektar dengan rata-rata hasil 2,4 ton per hektar. Sedangkan Mutiara 3 punya potensi hasil 3,2 ton per hektar dengan rata-rata 2,4 ton per hektar.
"Kalau secara nasional itu rata-rata kedelai (biasa) produkttivitasnya 1,4 ton per hektar," jelasnya.
Selain itu, kedelai hitam ini memiliki kandungan protein yang tinggi dibanding yang lain. "Dan adaptif terhadap lingkungan, protein 3%, standarnya 2%, kental dan tahan terhadap penyakit karat daun," katanya.
"Ini bisa membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor," imbuhnya.
(zul/rrd)










































