Pertemuan berlangsung sekitar 40 menit dari pukul 10.30 WIB. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi ditemani oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
Wakil Ketua Umum Iskindo Riza Damanik menyampaikan ada 15.000 sarjana kelautan yang ada di dalam negeri. Ini dapat menjadi modal awal untuk mendukung segala macam porgram dari pemerintahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu ide yang disampaikan adalah dengan menghubungkan kampung dan kampus. Kampung merupakan area untuk produksi dan pengolahan dari hasil kelautan. Kampus akan memfasilitasi dengan inovasi dan teknologi di kampung.
"Kampung dibutuhkan transfer inovasi dan teknologi yang bisa dihasilkan oleh kampus dan sarjana Indonesia," jelas Riza.
Ini akan sekaligus mampu menggeser pola pengelolaan dari hasil sumber daya alam (SDA) tersebut, dari ekspolitatif menjadi inovatif.
"Salah satu tantangan memang ada pada SDA yang itu minus inovasi, sedikit menyerap tenaga kerja dan merusak lingkungan. Maka ita mempromosikan kepada presiden bahwa kedepan kita harus hijrah dari model eksploitatif ke inovatif," terangnya.
Riza menambahkan, sejauh ini memang sarjana di bidang ini sedikit terpinggirkan. Seiring dengan arah pemerintah sebelumnya tidak menjadikan maritim sebagai fokus utama. Padahal menurutnya di sinilah modal terbesar Indonesia.
"Pemerintah sebelumnya tidak meletakkan isu ini sebagai isu penting. Maka itu untuk Pak Jokowi dengan program poros mairitm Indonesia itu penting meletakan manusia Indonesia dalam programnya," kata Riza.
Alhasil banyak sarjana kelautan justru mencari profesi lain bahkan jauh dari keahlian yang dimilikinya. Maka dari itu dengan kebijakan pemerintahan sekarang diharapkan mampu mengakomodir para sarjana dalam programnya.
"Banyak seperti itu. Itu pesan moralnya bahwa dalam waktu yang cukup panjang terjadi demoralisasi dan peminggiran terhadap sarjana kelautan yang jumlahnya cukup banyak," tukasnya.
(mkl/hen)











































