Para pensiunan mengepung gerbang bank untuk meminta uang pensiun mereka, tapi harapan mereka tak terpenuhi, mereka pulang dengan tangan kosong dan menangis, kondisi tersebut jelas menggambarkan simbol dari kejatuhan dramatis bangsa Yunani selama satu dekade terakhir.
Hari ini, Yunani tengah menggelar referendum meminta tanggapan dari rakyat Yunani untuk menerima atau menolak tawaran utang baru sebesar 7,2 miliar euro atau sebesar Rp 108 triliun yang ditawarkan oleh para kreditur yang tergabung dalam Troika, yaitu Uni Eropa, European Central Bank (ECB/Bank Sentral Eropa), dan IMF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jawaban rakyat Yunani melalui referendum ini sekaligus akan menentukan apakah Yunani akan tetap masuk atau keluar sebagai negara dalam kawasan zona Eropa. Pemungutan suara dibuka pukul 07.00 waktu setempat.
Perdana Menteri Alexis Tsipras menganggap, tawaran tersebut sebagai penghinaan terhadap Yunani dan mendesak warganya untuk menolak tawaran ini. Jika hasilnya menunjukkan penolakan yang artinya Yunani resmi dibangkrutkan, maka Yunani dipastikan akan keluar dari zona Eropa.
"Hari Minggu ini kami semua harus mengirim pesan demokrasi dan martabat kepada dunia," kata Tsipras di hadapan puluhan ribu orang Yunani seperti dilansir Reuters, Minggu (5/7/2015).
Sebelas tahun lalu, pagi hari di tanggal 5 Juli 2004, rakyat Yunani juga turun ke jalan, tapi bukan untuk pemungutan suara menentukan nasib Yunani, namun bersatu dalam perayaan kemenangan negara mereka di turnamen sepak bola Piala Eropa. Hari ini tepat 5 Juli 2015, hari penentuan keberlangsungan Yunani, memilih bangkrut atau menerima tawaran utang dari Troika meskipun dengan sederetan syarat.
"Ada suasana ketakutan. Anda hanya bisa merasakannya," kata Sarafianos Giorgos, seorang guru 60 tahun di Athena, yang mengatakan dia akan memilih mendukung proposal kreditur.
(drk/rrd)











































