Pengusaha Minta Tindak Tegas Pelanggar UU Mata Uang

Pengusaha Minta Tindak Tegas Pelanggar UU Mata Uang

Muhammad Idris - detikFinance
Minggu, 05 Jul 2015 17:02 WIB
Pengusaha Minta Tindak Tegas Pelanggar UU Mata Uang
Jakarta - Stabilitas ekonomi makro akhir-akhir ini mengalami ujian yang sangat berat. Volatilitas nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) sangat tinggi.

Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP-HIPMI) mengindikasikan, ada desain besar untuk menjadikan rupiah sebagai mata uang 'sampah' di negaranya sendiri. Padahal, mata uang seperti rupiah ini merupakan simbol kehormatan dan kedaulatan ekonomi sebuah negara.

"Kita jangan cuma lihat secara kasat mata saja fenomena yang ada. Ada sebuah fenomena atas desain untuk membuat rupiah tidak ada nilainya di negara sendiri," ujar Ketua Umum BPP HIPMI Bahlil Lahadalia dalam keterangan resminya, Minggu (5/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait itu, Bahlil meminta pemerintah dan bank sentral menindak tegas dan tidak berkompromi dengan pihak-pihak yang masih bertransaksi dengan mata uang asing di wilayah negara kesatuan republik Indonesia.

Ia menilai, penegakan aturan penggunaan mata uang rupiah masih sangat lemah. Akibatnya, rupiah dengan mudah terus melemah meski sudah terdapat Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan UU tentang kewajiban penggunaan mata uang rupiah.

Bahlil mengatakan, desain menyampahkan mata uang rupiah sangat kasat mata. Di luar negeri, mata uang rupiah tidak diterima untuk ditukar dengan mata uang asing.

Gejala yang sama mulai terjadi di dalam negeri, di mana rupiah mulai ditolak untuk transaksi-transaksi tertentu. HIPMI khawatir, perlahan-lahan rupiah mulai tergeser tanpa disadari dari transaksi keseharian masyarakat.

"Awal-awalnya, dari transaksi-transakai korporasi, pemerintah, yang besar-besar. Lama-lama masuk ke transaksi ritel dan konsumsi. Ini yang kita waspadai. Coba kita lihat daftar harga direstoran-restoran dan hotel-hotel besar sudah mulai ada dicantumkan harga dalam dolar, double currency. Lama-lama rupiah tinggal kenangan," tegasnya.

Bahlil mengatakan, kebutuhan akan mata uang asing di dalam negeri memang sangat tinggi. Dengan ukuran ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan masuk dalam jajaran 10 besar dunia, transaksi Indonesia dalam perdagangan internasional sangat besar.

Namun, pesatnya kebutuhan akan mata uang asing ini sayangnya tidak diikuti oleh penegakan kebijakan yang juga ikut memperkuat mata uang lokal.

"Mata uang kita malah dianggap tidak ada nilainya," ungkap Bahlil.

Logika sederhananya, ujar dia, rupiah semestinya semakin seksi dan menjadi mata uang penyeimbang di kawasan Asia Tenggara minimal mengikuti skala ekonomi Indonesia yang sangat besar.

"Contohnya kan China. Ekonomi dia besar, mata uang dia juga ikut dibesarkan bahkan menjadi pesaing berat dolar AS. Bahkan, cerdiknya dia buat mata uang sendiri untuk transaksi di luar negeri. Tapi begitu masuk ke Yuan Territory, semua mata uang asing harus jadi Yuan," tandasnya.

(drk/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads