Namun sayangnya, salah satu komoditas yang dijual Bulog, yaitu cabai rawit, banyak ditemukan telah kering dan membusuk.
"Kalau cabai kita nggak berani ngomong, soalnya dari sananya (gudang Bulog) sudah begitu," kata Dedi Purnama, petugas OP Bulog, ditemui detikFinance di Pasar Induk Kramat Jati, Minggu (5/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita mau jual (cabai rawit) juga sebenarnya nggak enak. Mau ngomong sudah nggak bagus, tapi mau bagaimana lagi," ungkap Dedi.
Dalam sehari, sambung Dedi, dirinya membawa 20 kg cabai rawit dalam sehari dari gudang Bulog Regional Jakarta-Banten di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
"Kalau bawa 20 kilogram. Dijualnya Rp 20.000. Kayanya sih ini masih stok kemarin sih," jelasnya.
Dedi menuturkan, sejak dibuka OP pada sekitar pukul 09.00, cabai rawit yang dibungkus karung merah ini belum sama sekali terjual. "Dari pagi, belum laku sama sekali sampai siang ini," imbuhnya.
Wakil Kepala Divisi Regional Jakarta-Banten Perum Bulog Fatah Yasin membenarkan cabai rawit yang busuk tersebut merupakan stok lama dan akan segera ditarik untuk disortir kembali.
"Itu yang (stok) lama. Kita kan ganti terus dengan yang baru, mau kita tarik yang sudah busuk," kata Yasin pada detikFinance.
Kendati menjual cabai rawit kering, menurut Yasin, pihaknya sudah melakukan penyortiran cabai di gudang Bulog secara selektif.
"Sebenarnya sudah kita sortir. Yang dipasok kan yang segar, nanti yang sekarang kita sortir lagi. Yang masih bisa diselamatkan kita jual lagi, yang busuk kita buang," jelasnya.
Yasin menuturkan, lepasnya bawang kering dan busuk tersebut karena sifat cabai rawit yang sangat cepat membusuk, di sisi lain, Bulog baru mendatangkan stok cabai rawit baru dalam waktu-waktu tertentu, berbeda dengan pedagang yang menyetok cabai setiap hari.
"Setiap kali datang kita bawa cabai 3 truk dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Satu truk isinya 7 ton. Kita hanya perlu ganti yang lebih segar saja," tambahnya.
(rrd/drk)











































