Penelitian dari Litbang IKAPPI menyebutkan, sejak awal hingga pertengahan Ramadhan, di Jabodetabek terjadi penurunan omzet cukup signifikan dari tahun sebelumnya. "Di Jabodetabek, sejak awal hingga pertengahan Ramadhan terjadi penurunan omzet 20-40% di pasar tradisional dibanding Ramadhan tahun lalu," tulisnya.
Penurunan omzet pedagang pasar dipicu oleh 5 faktor. Pertama, terjadinya penurunan daya beli masyarakat akibat situasi ekonomi saat ini. Pada kuartal I-2015 telah terjadi penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan BBM dan TDL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, makin maraknya kampanye negatif terhadap pasar tradisional. Contoh saja, isu beras plastik yang berakibat turunnya omzet pedagang beras di pasar. Rakyat seperti dihantui ketakutan untuk belanja beras di pasar tradisional. Kampanye negatif ini menggiring konsumen untuk lari dari pasar tradisional.
Ketiga, ketidakstabilan harga barang kebutuhan pokok jelang Ramadhan. Lambannya penanganan pemerintah dalam menahan laju kenaikan harga kebutuhan pokok turut andil dalam situasi ini. Kenaikan harga ini selalu terulang jelang Ramadhan, namun upaya antisipasi lamban. Kementan dan Kemendag bilang, stok dan produksi aman, tapi barang langka hingga terjadi kenaikan.
Keempat, maraknya terjadi kebakaran pasar dan penggusuran sepanjang tahun 2015.
Kelima, kian menjamurnya ritel modern yang masuk hingga ke sudut pemukiman warga. Seluruh faktor ini menyebabkan terjadinya migrasi pelanggan dari pasar tradisional ke ritel modern.
(drk/rrd)











































