Rencananya, perbankan akan dibuka kembali pada Selasa besok. Namun ini masih diragukan, karena sistem perbankan di Yunani tidak lagi mendapatkan dana segar dari Bank Sentral Eropa.
Kemarin, referendum di Yunani membuah hasil penolakan terhadap syarat utang baru dari Eropa dan IMF. Akibatnya, negara ini perlahan kehabisan uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini, warga Yunani hanya bisa mengambil uang maksimal 60 euro atau sekitar Rp 800 ribu/hari dari mesin ATM.
Kekhawatiran masyarakat mulai muncul terkait berkurangnya pasokan bensin dan obat-obatan, bila Yunani kehabisan uang.
"Setelah referendum yang menolak syarat utang baru, ada 2 hal yang dihadapi Yunani, tekanan politik dan disfungsi perbankan," demikian riset JPMorgan yang dilansir dari Reuters, Senin (6/7/2015).
Seperti diketahui saat ini Yunani memiliki utang ke Eropa dan IMF dengan nilai 240 miliar euro (US$ 264 miliar) atau sekitar Rp 3.432 triliun.
Krisis utang ini akan memperparah kondisi ekonomi Yunani. Dalam 7 tahun terakhir, tingkat pengangguran remaje mencapai 50%.
Yunani tak punya cara lain untuk menarik utang, selain ke Eropa dan IMF. Bila negara ini mencari utang di pasar uang internasional, bunganya akan tinggi sekali.
IMF mengingatkan bahwa Yunani membutuhkan dana segar sekitar 50 miliar euro (US$ 55 miliar) atau Rp 715 triliun, untuk bisa menyelamatkan ekonominya.
Sejak krisis ekonomi global di 2008 lalu, ekonomi Yunani mulai guncang. Turis yang menjadi sumber pendapatan negara ini, berkurang akrena krisis.
Mulai 2012, Yunani benar-benar bergantung pada utang untuk membiayai negaranya.
(dnl/dnl)











































