Sebelum pertanyaan itu dijawab, lebih baik kita bandingkan dulu situasi antara Indonesia dan Yunani. Memang Indonesia sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam enam bulan terakhir ini.
Meski melambat, tapi ekonomi Indonesia masih tumbuh. Dalam enam tahun terakhir ekonomi Indonesia juga masih tumbuh, beda dengan Yunani yang minus 26%
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dari sisi utang hingga Mei 2015 jumlah utang Negeri Dewa-Dewi itu sebesar 360 miliar euro atau sekitar Rp 4.680 triliun (kurs Rp 13.000).
Rasio utang pemerintah Yunani terhadap PDB negaranya adalah 155,3% alias masih tekor sampai mei 2015 kemarin. Beda dengan Indonesia yang utangnya Rp 2.845 triliun dengan rasio yang rendah hanya 24,7% dari PDB.
Dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa maka satu orang Indonesia menanggung utang sekitar Rp 11,4 juta. Sementara Yunani yang jumlah penduduknya sekitar 12 juta maka tiap satu warga menanggung utang Rp 390 juta.
Jumlah pengangguran di Indonesia juga masih jauh lebih kecil dibandingkan Yunani. Pengangguran di Indonesia sebanyak 5,81% dari total penduduk, sedangkan Yunani 25,4%
Tidak hanya itu, Bursa Efek Indonesi (BEI) meski tahun ini tumbuh minus 9% secara year to date tapi sudah naik signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan awal tahun ini menembus rekor tertingginya sepanjang masa. Hal berbeda terjadi bursa saham Yunani yang tumbus minus dalam 10 tahun terakhir.
"Rating (peringkat) kita itu diberikan kan bukan oleh lembaga yang abal-abal, tapi lembaga internasional yang punya reputasi baik," ujarnya.
Perubahan peringkat terakhir yang diberikan kepada Indonesia adalah dari Poorโs Ratings Services (S&P) menaikkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif (BB+). Sementara peringkat utang Yunani adalah junk alias sampah.
Jadi jawaban dari pertanyaan apakah Indonesia akan bernasib sama seperti Yunani adalah tidak. Namun demikian, pemerintah Indonesia juga jangan diam saja dan harus mulai menggenjot perekonomian kembali.
"Jadi bukan berarti kita aman-aman saja, kita masih banyak tantangan. Pemerintah harus bisa menggenjot ekonomi," ujarnya.
(ang/dnl)











































