Banyak negara yang berada di ambang kebangkrutan dan akhirnya bisa lolos dari jeratan, misalnya Argentina dan Puerto Rico. Meski belum keluar dari krisis finansial, tapi setidaknya bisa membayar utang-utangnya.
Nah bagaimana dengan Indonesia? Dengan ekonomi yang melambat dan nilai tukar rupiah yang jatuh, banyak pihak kemudian pesimistis dengan masa depan Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (6/7/2015), produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di 2014 lalu tercatat US$ 868,35 miliar atau jika dihitung dengan kurs Rp 13.000, maka nilainya Rp 11.288 triliun. Saat itu, ekonomi Indonesia tumbuh 5,02%.
Sementara Yunani di tahun yang sama, PDB-nya tercatat US$ 241,72 miliar atau sekitar Rp 3.142 triliun. Ekonomi negeri dewa-dewi itu juga hanya tumbuh 0,2%.
Dengan PDB sebesar itu, Indonesia punya utang sekitar US$ 292,6 miliar atau setara Rp 3.803 triliun. Sementara Yunani punya utang US$ 317,31 miliar atau Rp 4.125 triliun.
Nilai utang Indonesia dan Yunani hampir sama besar, tapi jangan hanya dilihat nilainya tapi rasionya juga. Rasio utang Yunani terhadap PDB di akhir 2014 itu sekitar 130% alias tekor.
Sementara Indonesia rasionya sekitar 30% saja, sehingga masih besar pemasukan daripada utangnya.
(ang/dnl)











































