Menko Perekonomian Sofyan Djalil menuturkan, porsi penerimaan terbesar memang tetap mengandalkan pajak. Kemudian adalah dari penarikan utang luar negeri, karena ada defisit anggaran sekitar 2%. Seperti diketahui, penerimaan negara ditargetkan Rp 1.900 triliun, jadi ada selisih sekitar Rp 300 triliun dari anggaran belanja.
"Penerimaan tentu yang dalam negeri harapan tetap pada pajak, penerimaan luar negeri dari pinjaman dan pengeluaran Surat Utang Negara (SUN)," ungkap Sofyan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (6/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan ada effort (usaha) khusus tentu untuk tahun depan yang masih perlu dibicarakan dengan DPR dan lain-lain," kata Sofyan.
Mantan Menteri BUMN tersebut masih enggan mengungkapkan kebijakan apa yang dimaksud. Ia menilai, kebijakan tersebut cocok dengan kondisi ekonomi yang tengah melambat seperti sekarang.
Apa itu kebijakan tax amnesty (pengampunan pajak)?
"Saya nggak menyimpulkan, tapi akan ada effort khusus. Mudah-mudahan target pajak lebih tinggi bisa dicapai. Kondisi ekonomi kita melambat, penerimaan pajak konvensional tidak akan tumbuh besar, tapi dengan ekstensiikasi kita harapkan akan ada effort khusus," pungkasnya.
(mkl/dnl)











































