Ini Kata Warga Yunani Soal Syarat Utang Eropa dan IMF

Ini Kata Warga Yunani Soal Syarat Utang Eropa dan IMF

Wahyu Daniel - detikFinance
Selasa, 07 Jul 2015 08:31 WIB
Ini Kata Warga Yunani Soal Syarat Utang Eropa dan IMF
Athena - Pada hari Minggu kemarin, pemerintah Yunani melakukan referendum kepada warganya, terkait syarat ketat utang baru dari Eropa dan International Monetary Fund (IMF). Hasilnya, 61% warga menolak.

Syarat utang yang diminta adalah penghematan anggaran, antara lain lewat kenaikan batas umur pensiun yang dijamin negara dan menaikkan pajak.

Apa kata warga Yunani?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Connie Thomas, yang menjadi pengusaha restoran kecil bersama suaminya di Athena, mengatakan alasan kenapa warga Yunani menolak syarat utang, meski keputusan membawa negara ini dekat dengan kehancuran, dan bahkan bisa dikeluarkan dari eurozone, atau negara pengguna mata uang euro.

"Orang-orang ini pasrah saja, karena mereka tidak punya pekerjaan, uang, dan tabungan. Karena itu mereka tidak takut mengambil risiko," kata Connie dilansir dari CNN, Selasa (7/7/2015).

Seperti banyak pengusaha lainnya, Connie dan suaminya, Anthony memilih menerima syarat utang dari Eropa dan IMF.

Sementara Eva Ferentinos, pensiunan berumur 60 tahun, memilih menolak syarat utang. Dia mengatakan, kondisi 5 tahun terakhir telah membuat Yunani terpuruk, dan dia merasa cukup. Dia tidak mau lagi ada penghematan anggaran. Namun dia tetap ingin Yunani berada di eurozone.

"Saya berharap kami akan tetap berada di Eropa, saya ingin berada di Eropa, namun kami butuh program yang lebih baik," kata Eva.

"Saya mengerti bahwa mereka (negara eurozone) menginginkan yang terbaik untuk negara anggotanya, namun saat mereka melihat warga di negara ini susah, mereka harus membantu," imbuh Eva.

Namun ada juga warga yang benar-benar mengerti konsekuensi dari penolakan syarat utang ini. Seperti Najia Drakia yang mengkampanyekan penolakan syarat utang. Dia juga tidak masalah bila Yunani 'ditendang' dari eurozone, dan harus menggunakan mata uang lamanya, yaitu drachma.

Banyak pihak mengatakan, bila ini terjadi, PDB Yunani bakal kolaps, ada devaluasi mata uang, dan pengangguran makin tinggi.

"Kami perlu mendeklarasikan tidak membutuhkan utang, kembali ke drachma, dan pemerintah bisa menyesuaikan nilai tukarnya," kata Najia, 47 tahun, yang bekerja sebagai pegawai pemerintah.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads