Misalnya aksi komplotan preman yang beraksi menghadang pengiriman komoditas cabai dan tomat dari Sukabumi, Jawa Barat, yang terjadi di Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Banten.
"Ada 10 kendaraan dari Sukabumi yang hingga saat ini ditahan di Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang Banten. Saya dapat info dari pengepul yang bawa barang dari sini, bahkan ada pengancaman dengan senjata tajam masih belum jelas apa sudah dilaporkan ke polisi atau belum. Namun yang pasti jika tidak ada tindakan barang itu akan busuk," kata Taufik seorang petani penyuplai cabai dan tomat di Sukabumi kepada detikFinance, Rabu (8/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya secara materi kita dirugikan tidak terlalu banyak karena sudah lepas ke pengepul dan harga yang berkurang nanti yang jadi masalah pengepul ini nantinya ogah membeli lagi buat dikirim ke pasar-pasar besar, karena kalau bermain di pasar lokal keuntungannya kecil kita yang akan rugi," katanya.
Ia mengatakan dari 10 kendaraan yang ditahan, 1 di antaranya merupakan miliknya yang bermuatan 8 ton tomat.
Informasi soal preman pasar pengendali harga ini berawal saat Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel melakukan kunjungan kerja ke lahan pertanian cabai tadi pagi. Gobel sempat kaget ketika mendengar curhatan petani Tomat dan Cabai di Desa Perbawati, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
Ia kaget ketika dicurhati petani adanya keterkaitan preman di sejumlah pasar yang ikut andil mengendalikan stok dan harga komoditas cabai dan tomat.
"Saya kaget, tadi ada petani bilang ada keterlibatan preman yang mengendalikan harga dengan mengurangi masuknya stok komoditas dari petani," ujar Gobel.
(hen/ang)











































